Setiap sistem insani, baik sistem pendidikan, politik,hukum, ataupun sistem ekonomi, semuanya berlatar belakang dan memancarkan pandangan alam (world view) serta nilai-nilai utama bangsa dan peradaban tersebut. Salah satu dari unsur pandangan alam yang utama dan nilai yang penting adalah yang berkaitan dengan epistemologi, yakni makna ilmu, lawan atau antonimnya, kategori atau pokok dan cabang-cabangnya, serta cara-cara mendapatkan dan mengamalkan setiap ilmu itu dengan benar. Oleh karena itu ilmu pengetahuan memang diresapi dalam elemen pandangn hidup, agama, kebudayaan, dan peradaban seorang individu. Ilmu tidak mempunyai sifat bebas nilai atau netral secara mutlak. Dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai secara mutlak karena ilmu pengetahuan berada dan berfungsi didalam akal manusia yang semestinya mengandung berbagai nilai, baik dan buruk.[1]
1.1 Ilmu Pengetahuan dan Akidah Islam
Kaum intelektual telah mengamati bahwa salah satu watak khas peradaban islam adalah perhatiannya yang serius terhadap pencarian berbagai cabang ilmu. Penekanan yang diberikan islam kepada pentingnya ilmu pengetahuan adalah dalam usaha memenuhi keperluan spiritual dan meraik kebahagiaan, dan bukan sekedar sebagai komoditas sosio- ekonomi. Kebahagiaan menurut islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, kesenangan fisik yang tidak kekal bukan pula keadaan mental dan fikiran. Lebih dari itu, kebahagiaan menurut islam adalah hakikat spirit ual yang kekal, yang secara sadar dapat dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang (akhirat).
Jadi, kebahagiaan seseorang terletak pada keyakinannya terhadap hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri, dan tujuan hidupnya hingga hari kiamat nanti.
Lebih dari itu, kebahagiaan juga menyangkut keselarasan antara penyerahan diri dengan ketaatan pada ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Keyakinan dan keselarasan itu sendiri merupakan landasan bagi amalan yang utama (fadhoil ) dalam islam , baik aspek eksternal maupun internal, termasuk didalamnya pelaksanaan semua kewajiban agama, latihan spiritual, menjauhi semua larangan agama, bersikap bijaksana, sabar, berani,dan adil.[2] Adanya amalan yang utama ini menunjukkan bahwa seseorang itu harus memliki ilmu pengetahuan terlebih dahulu tentang amalan tersebut, imam bukhari sendiri telah membuat bab khusus dalam kitab shohihnya dengan judul “ ilmu sebelum berkata dan berbuat“ (al’-ilmu qobla al-qauli wa al-‘amal ). Hal tersebut semakin memperkuat kedudukan ilmu sebagai faktor yang sangat penting dalam akidah islam , Allah SWT berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[3]
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kewajiban setiap individu muslim untuk mencari ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari akidah islam Rasulullah bersabda “ menuntut ilmu itu adalah kewajiban setiap muslim.”[4] Ibnu Taimiyah pernah mengatakan “ Menuntut ilmu itu adalah fardhu kifayah”[5]
Sesuai dengan yang diterangkan diatas , walaupun tidak semua orang bersifat jahat akan tetapi besar kemungkinan ia melakukan kejahatan karena kejahilannya, Ibnu Hazm berkata dalam Al-Akhlak wa as-Siyar bahwa “ilmu pengetahuan memiliki kaitan yang sangat erat dengan kebaikan dan kejahilan memiliki peranan dalam setiap tindak-tanduk kejahatan.[6]
Mengawali akidah dengan pernyataan yang jelas tentang ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting, sebab islam adalah agama yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Penyangkalan terhadap keutamaan dan objektivitas ilmu pengetahuan akan mengakibatkan hancurnya dasar yang tidak hanya menjadi akar bagi agama tetapi juga bagi semua jenis sains.
Sebagai bukti dapat dikatakan disini bahwa salah satu perkataan yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an setelah nama-nama Allah SWT , ialah perkataan ilmu beserta sinonimnya yang lain. Allah SWT secara eksplisit berfirman dalam QS Fatir (35) : 28, bahwa hanya orang yang berilmu-pengetahuanlah (ulama) yang betul-betul takut kepada Allah SWT. Oleh sebab itu sangat wajar jika formulasi pertama akidah islam seperti yang terdapat dalam buku fiqh akbar I, telah menunjukkan sikap memperhatikan ilmu pengetahuan.
1.2 Saluran-Saluran Ilmu Pengetahuan
Tradisi islam menggariskan bahwa ilmu pengetahuan tiba melalui berbagai saluran, yaitu pencaindera (al-hawass al-khomsah), akal fikiran sehat (al-‘aql as-salim) serta yang benar (al-akhbar al-sadiq), dan intuisi (ilham). [7]
Pandangan seperti ini adalah suatu cerminan dan pengakuan yang adil terhadap berbagai tingkat realitas yang telah disebutkan di atas . Dalam hal ini kita sepakat dengan Iqbal, bahwa Islam tidak pernah mengecilkan peranan indera, yang pada dasarnya merupakan saluran yang sangat penting dalam pencapaian ilmu pengetahuan tentang realitas empiris.[8] Bahkan, indera berfungsi sebagai instrumen pokok bagi jiwa dalam mengetahui aspek-aspek tertentu dari Sifat dan Nama Allah SWT melalui alam ciptaan-Nya[9]. Malah istilah pengalaman dalam bahasa melayu diambil dari Bahasa Arab ‘alam, artinya alam semesta dan ‘ilm yang artinya ilmu pengetahuan, hal ini secara langsung menunjukkan bahwa mengalami kehidupan di alam ini adalah sama artinya dengan memiliki ilmu pengetahuan tentang alam, yaitu pengilmuan tentang kehidupan. Sebab umat islam mengetahui bahwa islam menganggap pengalaman sebagai saluran ilmu pengetahuan yang absah.[10] Demikian pula akal fikiran sehat yang merupakan saluran penting yang dengannya diperoleh ilmu pengetahuan tentang suatu yang jelas. Akal fikiran ( al-‘aql ) bukan hanya rasio, lebih dari itu ia adalah fakultas mental yang mensistemasisasikan dan menafsirkan fakta–fakta empiris menurut kerangka logika, yang memungkinkan pengalaman inderawi menjadi suatu yang dapat dipahami.
Berita yang benar adalah sumber lain ilmu pengetahuan yang terdiri dari dua jenis. Jenis pertama adalah berita yang terbukti secara terus menerus dan disampaikan oleh mereka yang kebaikan akhlaknya tidak mengizinkan akal fikiran kita untuk membayangkan bahwa mereka akan melakukan dan menyebarkan kesalahan. Hadist mutawatir dan hadis shohih lainnya adalah contoh yang sangat tepat tentang jenis berita ini. Jenis yang kedua adalah berita mutlak, yang dibawa oleh Nabi berdasarkan wahyu. Jelasnya, semua otoritas yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan akhirnya merujuk pada pengalaman intuitif.
1.3 Kembali kepada Agama yang hanif
Dari tabiat khas islam yang mendasar inilah tercipta suatu sistem kemasyarakatan islam baik itu sistem politik, pendidikan maupun ekonomi yang akan mencerminkan unsur-unsur yang sama dan juga yang berlainan dengan sistem lain, unsur-unsur yang berlainan dengan sistem diluar islam itulah yang telah dan akan terus mencirikan watak islam yang tunggal.
Sistem pendidikan, perundangan , politik dan ekonomi umat islam haruslah dibina dan senantiasa diperbaiki untuk menjadikannya terus relevan agar umat islam senantiasa menjadi khayr ummah dan berupaya mengajak manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari segala kemungkaran, dan beriman kepada Allah SWT. Untuk mengupayakan ini semua, kerangka keilmuan atau epistemologinya haruslah benar dan tidak harus dibiarkan berubah oleh unsur-unsur sofis moderen dalam berbagai bentuk dan cara . Jika kerangka epistemologi ini berubah, maka umat islam tidak akan dapat berupaya memahami ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW serta mendapat manfaat dari kewibawaan tradisi umat manusia lainnya. Tantangan epistemologis ini semakin penting karena belakangan ini kebenaran , fakta yang benar (true facts), otoritas yang sah dalam agama dan akhlak , dasar-dasar perundangan islam telah dipersoalkan termasuk oleh beberapa dari mereka yang disebut sebagai cendekiawan muslim yang kononnya membela kesucian agama dan akhlak. [11]
[1] Prof. DR. Wan Mohd Nor Wan Daud, Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat, Majalah Islamia, Thn II No.5/ April- Juni 2005 hlm. 51
[2] S.M. Naquib Al-Attas, 1993, The Meaning and Experience of Happiness in Islam . ISTAC, Kuala Lumpur.
[3] QS Al-Isra’ (17): 83
[4] HR Muslim lihat Taisirul Wushul fi Syarhi Tsalatsatul Usul, Syekh Nu’man bin Abdul Karim Al-Watr.
[5] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, hlm. 80:28
[6] Anwar chejne, ibnu Hazm, Chicago : kazi publication ,1982 hlm.66.
[7] Commentary. Hlm.31 ; The oldest Malay Manuscript, hlm. 53 ;.Altaftazani juga menjelaskan masalah yang sama yang sehaluan dengan padangan Al-attas. Lihat Mas’ud Umar Al-Taftazani , Syarh An-‘Aqa’id Al-Nasafiyah , diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan pendahuluan oleh E.E. Elder , A comentary on the creed of islam, 1950 (New York Book for Libraries, 1980) Bab 2. Sebagai bahan perbandingan dengan saluran-saluran atau akar-akar imu pengetahuan “ yang telah diterangkan oleh Al-Baghdadi , lihat Wensick, The muslim Creed , hlm.255-263. Untuk mengetahui lebih dalam tentang analisis Imam Al-Ghozali tentang indera , intelek, hati ,dan imajinasi lihat tesis M.A yang ditulis oleh Mohd. Zaidi Ismail, The Sources of Knowledge in Al-Ghazali : A Psychological Framework of epistemologi ( ISTAC, Agustus 1995)
[8] Muhammad Iqbal , Reconstruction of Religius Though in Islam . Terbitan pertama 1937 ( Lahore : Javed Iqbal, 1965 ) khususnya Bab 3, “ The Spirit of Muslim Culture” . Juga isyarat Hasan Enver, Metaphysics of Iqbal, cetakan ulang edisi revisi pada 1995 ( Lahore : Sy Muhammad Asyraf, 1973), hlm. 2-4.
[9] Abu Hamid Al-Ghazali , Kimiya-e Sa’adah , diterjemahkan kedalam bahasa India oleh Claud Field , The Alchemy Happiness ( Lahore : Sy. Muhammad Asyraf ) hlm.30
[10] S.M. Naquib Al-Attas , The Nature of Man and The Psychology of Human Soul ( Kuala Lumpur : ISTAC 1990 )hlm 28-29
[11] Prof. DR. Wan Mohd Nor Wan Daud, Epistemologi Islam dan Tantangan Pemikiran Umat, Majalah Islamia, Thn II No.5/ April- Juni 2005 hlm. 58









assalamu’alaikum
bahasannya ngeri pisan akh…
terlalu tinggi euy
prespektif ilmu yang dicairkan dalam aplikasi hidup juga merupakan identitas islam, islam emang adil ya, bukan hanya adil dalam skala realistis tapi abstraktif juga. jadi dari itu akan timbul suatu kebanggan akan suara hati nurani, karena memang islam mengajarkan untuk melakukan suatu hal atas suara hati. penguatan suara hati itu dimotivasi oelh ilmu, pengalaman dan amal
juga tanggung jawab dan sebuah nilai konsekuensi.
subhanallah, bagus2
jadi semangat nyari ilmu lagi.
doain ya temen2 supaya aku selaras dalam ilmu amal dan hati …
jadi pertanggung jawaban ke Allahnya juga enak,