Karena kita memang penuh kekurangan mengapa harus merasa cukup, bukankan gelas yang kosong sajalah yang siap diisikan jernihnya air. Menulis memang bukan suatu hobi yang telah lama aku nikmati, ia baru saja hadir dalam getaran kebahagian hatiku yang tak pernah berhenti mencari. Ya, mencari arti hidup.
Duhai bahagianya jin dan manusia, diciptakan untuk selalu berjuang, berjuang untuk selalu beribadah. Dulu aku tak tahu apa ibadah itu, kupikir dia hanya terpasung oleh tembok-tembok masjid, surau dan langgar. Jika demikian adanya tentulah kita akan menghabiskan umur kita disana, kontemplasi yang berketerusan dibalik mihrab-mihrab yang mulai dilupakan dan kini menangis padahal ia adalah batu, dihadapan mimbar-mimbar yang terus mengadu padahal ia hanyalah kayu. Namun Mahamulianya Rabb kita Yang telah menebarkan jutaan kebaikan di penjuru bumi ini untuk kita pungut, baru aku tahu apa sesungguhnya ibadah itu, seorang guruku pun menjelaskan bahwa “ suatu istilah yang mencakup segala sesuatu baik perkataan maupun perbuatan yang dicintai dan diridai Allah baik secara lahir maupun batin”itulah ibadah.
Ketika itu ia bagaikan cahaya yang menyemburat masuk melalui jendela rumah kita disaat matahari mulai tersenyum kepada bumi, aku hempaskan langkah untuk mencari dan memunguti kebaikan yang tersebar itu. Tapi aku hanyalah aku, yang kerap kali merasa tak mampu, sampai suatu etape dari perjalanan hidupku aku mulai berpikir bahwa :
Menurutku, air yang tidak mengalir hanya akan membuatnya rusak dan bau
Seekor singa yang hanya tinggal disarangnya takkan pernah melahap mangsa
Anak panah pun tentu tak akan mengenasi sasarannya jika ia tak keluar dari busurnya
Dan matahari yang hanya berdiam di ufuk
tentu akan membuat seluruh manusia merasa bosan
Aku harus lakukan sesuatu sebelum hidupku habis termakan masa, aku tepis segala perasaan tak mampuku. Mengapa sekarang aku harus menulis, seberapa banyak tebaran kebaikan yang akan dapat aku kantongi dengannya?. Seorang teman berteriak dan berkata kepadaku “ Buanyak buanget bro”, aku jawab , masa sich?. Ia berkata lagi “ hai teman tidakkah engkau lihat betapa mata pena telah mampu membelah hati yang membatu, betapa banyak kezaliman yang teriris dengannya dan alangkah gagahnya seorang pendekar yang bersenjatakannya. Biarlah pena yang menggoreskan kisah dunia wahai teman, dan sepanjang bumi ini berputar sesungguhnya kau akan selalu bertarung dijalan Allah selama karyamu bicara, dan kau tak cukup hanya membawa selembar kantong plastik untuk dapat pulang dengan membawa seluruh kebaikan yang akan kau peroleh.
Aku terduduk letih karena percakapan singkat itu, aku sadar tidak ada hidup yang lebih indah dan berarti selain hidup yang ditutup dengan kematian penuh karya baik tertinggal. Namun masih saja terngiang bahwa “aku hanyalah aku”, jemariku pun begitu kaku untuk dapat menari diatas kertas, ia tak kuasa untuk dapat berdansa bersama tinta.
Hingga larut malam….. Tiba-tiba kudengar sekerumunan pemuda melambaikan tangan-tangan yang memancarkan cahaya dari kejauhan, mereka pandangi aku dan tersenyum sambil bernyanyi :
Kami enggan tidur hanya untuk menjaring ilmu yang menghidupkan
Kami berjaga untuk menikmati kesibukan
Meski sepasang telapak kaki dan jemari kami membengkak
Namun suara goresan pena kami diatas kertas
lebih indah daripada nyanyian rindu seorang yang kasmaran
dan lebih merdu dari bunyi rebana yang ditabuh seorang gadis
Kami ingin terus terjaga untuk mendengarkannya
Dan jika kamu tidur, mana mungkin kamu berharap bertemu kami kembali
Mereka mulai menjauh dan akhirnya menghilang, namun ada satu kalimat yang tak dapat kulupa, mereka katakan itu kepadaku sebelum mereka beranjak pergi,” “Matahari tak pernah sendiri “. Akukah matahari itu? matahari yang sekian lama menyendiri hingga cahayanya tak lagi dapat menerangi, aku bosan sendiri, aku jenuh dengan bisikan hatiku yang selalu berkata “aku hanyalah aku”, aku ingin bersama mereka, tangan dan pikiran mereka begitu bercahaya, menerangi bagian terdalam bangunan hati manusia. Bergegas aku kejar mereka, aku telah sangat jauh tertinggal, aku hampir putus asa ketika wajah-wajah mereka hanya menatap lurus kedepan, sedikitpun tak menoleh kepadaku, mereka semakin cepat berlari, aku semakin kewalahan mengejar mereka, hingga mereka sampai disuatu oase penuh rumput nan hijau, mereka berhenti berbalik kearahku dan membentangkan tangan-tangan bercahaya itu kepadaku, kami berpelukan, penuh cinta kar’na Allah, penuh getaran persaudaraan, senyum-senyum itu semakin meyakinkanku bahwa aku adalah bagian dari mereka, bagian dari mereka yang ingin merubah gelapnya dunia dengan cahaya . Biarlah pena yang menggoreskan kisahku.









wah ada perkembangan yang signifikan neh
lumayan n tambah bagus sekarang
di tambah donk gambarnya
kok cuma satu klo bisa di setiap space yang kosong di kasih, biar mata tambah segeran he mungkin kale…
Assalamu’alaikum….
Subhanalloh….Bagus banget deh isi ceritanya. Hayoo kira2 apa hikmah dari cerita itu ya? ah..biar ku ajak pena ku menari di buku diary ku aja ya…hehehe
eh..san…btw gimana lomba karya tulisnya???
Yuukkk…persembahkan karya terbaik kita mumpung masih muda…kata orang tua sih gitu…
Sampun Nggih…Maaf kalo ada salah.
Wassalam……