Jogja 11 des 2006
Setengah hari ini aku habiskan bersama sahabat lama -Aswan BaAlwi- dari jauh ia datang, Dia anggap aku telah membawanya berjalan-jalan, namun sebenarnya dialah yang sedang mengajakku bertamasya kemasa lalu, dia seakan seorang bocah kecil yang menarik-narik tangan ibunya membujuk sang ibu tuk segera mengantarakannya pulang dari acara arisan yang memuakkan, kami telusuri kota jogja diatas motorku yang oldy itu, si kumbang julukannya. Aku, teman lamaku Aswan dan si kumbang. Kami rayapi sudut-sudut sebagian jalan kota pelajar yang mulai tercemar, ia tak seperti ketika pertama aku mendarat disini.
Kepanglinganku akan seluk-beluk jalan jogja, yang dua tahun sudah lamanya aku pamit sebentar darinya, membuat kami semakin berkeliling asyik karena lupa kemana jalan itu berakhir. Kulihat baliho-baliho, spanduk-spanduk, banner-banner dan poster-poster yang semakin menyeramkan. Tertulis disalah satu spanduk “ Ladies night, free acces for more ladies and get free beers at bla3x ”kurang lebih begitulah bunyinya, aku pun sudah tak hapal lagi karena kesedihan telah menguasai jiwa. Tak sanggup saya bayangkan betapa banyak pemudi yang segera menjadi korban, aku jadi semakin yakin dengan kesimpulan mas Iip Wijayanto beberapa tahun lalu, apatah lagi kalau penelitiannya dilakukan tahun ini.- Hanya Allah lah tempat hamba mengadu-
Suatu JJS yang sangat dalam. Kami melesat sampai kawasan Piyungan Bantul, mengunjungi teman seperjuangan kami ketika sama-sama menjadi penuntut ilmu syar’i di surabaya dulu, Akh Abdurrahman ia biasa aku panggil, ia telah menjadi ustadz kini.
Sampai sudah kami di Islamic Centre itu. Aku amati sekelilingku, saat itu aku merasa tidak memerlukan seorang pun yang menasihati jiwaku yang semakin kering, cukup pemahaman atas sebuah suasana yang tanpa disadari selalu mengkritik kita .
Suasana itu berubah menjadi pelajaran akan sebuah kesabaran, ketenangan, kemuliaan dan bagaimana menjadi berarti. Disekelilingku bermain sekelompok anak kecil beraneka umur, dari bocah kelas satu SD sampai yang SMP pun ada. Mereka sedang tenggelam di alam mereka sendiri, sibuk berimajinasi, berlari dan berteriak seakan ingin terbang ke bulan. Duhai begitu ekspresifnya masa kecil… Ketika sebagian anak sibuk bermain bola kaki dan berenang, beberapa bocah lainnya aku lihat sedang berteriak-teriak diatas pohon, sedangkan yang lainnya girang berlari kesana-kemari. Siapa yang begitu sabar mengasuh mereka? Dia lah sahabat lamaku Akh Abdurrahman yang tak lama lagi akan menikah ternyata. –Semoga dia yang baru saja kau kenal karena Allah itu adalah perhiasan terindahmu sampai di Firdaus kelak-
Adzan magrib berkumandang disusul dengan dengungan suara para bocah penghafal Al-Qur’an yang begitu manis mengiang ditelinga dan hatiku. Oh Al-Qur’anku…. Aku tak tahu apakah kau masih betah bersemayam di dadaku, karena aku rasakan kepergianmu sehuruf demi sehuruf semenjak tanpa sadar kau mulai ku”madu” dengan cinta yang lain.-Hanya kepada Allah Hamba mohon Ampunan-
Pulang sudah aku, aswan dan si kumbang dari sana setelah menyantap hidangan khas pondok dengan “Table Manner” ala Salaf yang “membumi”.
Kembali kami merayapi jalan bersama pengendara lain, ada bapak-bapak, ibu-ibu dengan kebaya, beberapa orang akhowat yang agak telat pulang kekos- kibaran jilbab besarnya itu dong pliz-, ada juga suami-istri bahkan yang berpura-pura seperti suami dan istri pun ada. Beberapa orang yang sedang berpura-pura seperti suami-istri kami dapati sedang menyantap durian sang buah kesayangan di pinggir jalan dekat gereja terbesar di jogja ketika kami akan menuju mesjid segera setelah mendengar adzan isya.
Lantunan qiroah sang imam begitu membekas dihati kami, menjadikannya lebih hidup dan siap menjaring makna disetiap nafas, semoga.
Kembali berjalan, aku, Aswan dan Si Kumbang merayapi jalan bersama anak Adam lainnya. Begitu banyak manusia didunia ini, sungguh setiap manusia memiliki sisi-sisi kehidupan yang beraneka, dari awal ia di cipta hingga dunia binasa, berapa waktu sudah sejarah berlalu, dari dulu hingga kini.
Sekarang, apakah kita hanya ingin hidup sahaja kemudian mati ditelan masa untuk kemudian disiksa di Neraka, ataukah kita ingin menyumbangkan setetes air jernih pada lautan sejarah yang penuh ombak sehingga kita datang menghadap Rabb kita dengan penuh keridhoan dari-Nya.








