Sepertinya sedang ada yang salah dengan jemariku. Semakin sadar aku ketika melihat si keyboard yang seakan-akan mengadu karena beberapa hari ini di agak jarang dipijat. Hmm… Terlalu jujur kalau aku katakan kepada kalian bahwa jiwaku ini sedang futur. Namun Alhamdulillah futurnya tidak meluas, hanya futur untuk menulis. Tapi itu kan kemarin. Alhamdulillah sekarang waktunya untuk kembali berbuah.
Banyak orang sepakat dengan analogi “menulis tak ubahnya seperti sekresi” atau BAB, -atau buang air besar kalo masih belum ngerti juga-. Sedangkan membaca dapat disamakan dengan makan. Ketika seorang makannya buanyak tapi kok lantas ndak pernah “kebelakang”, fhhh.. ini pasti ada yang ndak beres dengan sistem percernaannya. Sebaliknya, jika seorang ndak pernah makan tapi kerjaannya kok kebelakang terus, wah, ini juga bahaya. Hehe ini sekedar analogi kok, jangan disimpulkan bahwa tulisan harus selalu jijik-i seperti feses. Analogi ini mungkin lebih tepat kita sandarkan kepada lebah, karena yang dikeluarkannya selalu lah manis dan berkhasiat tinggi lagi bernilai.
Jika demikian idealnya adalah. Jika seseorang itu banyak membaca seharusnya dia juga harus selalu menghasilkan tulisan. Namun adalah suatu hal yang konyol bila seorang itu ndak pernah membaca kok ujug-ujug dia nulis. Bagaimana kira-kira tulisannya yak?! Tapi perlu dicatat bahwa membaca ndak melulu membaca buku lho. Membaca dapat dimaknai dalam artian yang lebih luas seperti membaca kejadian dalam kehidupan misalnya.
Semenjak dua Minggu belakangan ini, setiap hari aku stand by di sebuah toko buku dan kitab-kitab arab. Pustaka ukhuwah namanya, di timur MM UGM lokasinya. Bukannya sedang kelebihan budget buat borong buku. Tapi karena memang ditugaskan untuk ngentry seluruh inventory toko ke dalam MYOB. Alhamdulillah kerjaannya cukup santai sehingga banyak waktu luang. Sungguh sebuah kesempatan emas ketika aku bisa baca buku-buku baru tanpa harus beli -ini dia yang ditunggu-tunggu anak kos-. Walau demikian tapi sayang, aku merasa enggan untuk menulis, padahal air pemikiranku sudah akan meluap tumpah. Tapi sekali lagi seakan-akan ada sumbatan yang menghalanginya.
Memang nikmat sekali ketika kita mencoba menggali ide untuk ditulis. Alangkah menyenangkan ketika kita mulai menyelami relung hati kita dan menyusup disela rongga hati kita. Namun hal tersulit dari itu semua adalah “memulainya”. Itu akan terus dialami seseorang sampai kebijaksanaan/hikmah menjadikan hatinya sebagai sarang.
Sendiri adalah sunyi
Sunyi yang bersanding manja dengan sepi
Apakah suka cita tak cemburu
Jikalau hati selalu direndam pilu
Tuliskan apa yang kau punya
Agar sunyi tadi jadi bahagia
Ketika itu kau memang sendiri
Tapi nuranimu sedang berkelana kesana kemari
Itu sangat bahagia…Semua orang tahu itu
Kecuali mereka yang hatinya tersumbat debu
Debu yang memenjara mereka dalam ruang
Ruang yang ‘kan terus gelap sampai datang terang
Terang yang berulang kali menyingkap segala dialog itu
Dialog antara pikiran dan keyakinanmu
Mereka berdua sebenarnya harmonis sekali adanya
Hingga kau datangkan ragu pisahkan mereka








He-eh…klo pikiran kita uda dituangin dalam sebuah tulisan rasanya legaaaaaa banget, kyk abis dari “belakang”..:p
Tapi koq seringan malesnya ya, ato kerjaan numpuk jadi ga sempet nulis…????padahal tangan uda gatel pingin nulis..
anyway…salam kenal ya…your blog is cool…
Kira-kira di mana saluran macetnya sehingga nafsu menulis gedhe kok tidak segera dilayani untuk menuangkannya menjadi sebuah tulisan.