Sebagian kita mungkin tak asing lagi dengan pertanyaan “apakah Allah mampu menciptakan sesuatu yang lebih besar dari Dirinya”? pertanyaan ini sudah demikian lama saya dapati terlontar oleh sebagian orang. Tak sedikit yang langsung menangkis pertanyaan tersebut dengan jawaban singkat yang logis dengan mengatakan bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, namun disamping itu ia telah mensifati Diri-Nya dengan “Yang Maha Besar”, Dan perlu dicamkan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya sehingga sia-sialah andai-andai kita membayang kan hal tersebut, karena memang pertanyaan tersebut hanya muncul bagi orang yang memanusiakan Tuhan. Namun di lain pihak cukup banyak pula kepala yang di buat bingung karenanya.
Saya jadi teringat cerita ini; Pernah suatu hari Ustadz Hamid Fahmi Zarkasyi naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham di Inggeris sana. Disampingnya duduk seorang bule yang agak kusut. Bule tadi melirik buku Aqidah yang beliau baca. Tiba-tiba bule tadi berkata: Hi Mike! Ia menyapa beliau dengan aksen khas Birmingham sambil tersenyum manja. Dia lalu bertanya begini: Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya? Kita tahu konsekuensi jawaban ‘ya-tidak’ nya . Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama-menyenangkan bule tadi bahwa Tuhan tidak berkuasa. Ini tentulah pertanyaan seorang sekuler atau atheis. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban. Untuk tidak memberi jawaban panjang beliau kembali bertanya kepada bule tadi ‘Could you tell me what do you mean by God’? Namun baru saja pertanyaan tersebut terlontar sang bule keburu turun dari bus sambil meringis.
Pertanyaan serupa pernah diajukan Peter Abelard seorang teolog, dia sendiri kemudian bingung menjawabnya. Pertanyaan bule tadi ya kurang lebih hanya sekedar kulakan dari situ.
Sebenarnya yang mendasari pertanyaan tersebut adalah kebingungan sekelompok orang akan makna Tuhan. Sehingga kalau kita lihat di Barat diskursus tentang Tuhan begitu marak dan terkadang mirip guyonan. Di sana mereka benar-benar kebingungan karena tidak mendapatkan pemahaman yang benar tentang Tuhan. Maka muncullah orang-orang seperti Hegel yang ingin membunuh Tuhan, juga Nietzche yang telah mendeklarasikan kematian Tuhan pada 1882. Berikut Darwin, Marx, Fuerbach, Frued yang memprovokatori manusia untuk tugas baru mereka yaitu membunuh Tuhan. Sungguh kotor apa yang mereka ucapkan tentang Tuhan, namun jika itu hanya tuhan buatan mereka ya tak apa lah. Karena Tuhan kita Allah ‘azza wa jalla Tetaplah ada mengawasi kita dan tak akan mati. Al-Hayyu Al-Qoyyum. Kita lah yang akan mati dan dimintai pertanggung jawaban kelak.
Memang nyatanya Barat menjadi peradaban kering tanpa Tuhan. Karena Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Maka dari itu jangan kita panggil Allah dengan Tuhan. Panggillah Allah saja karena Ia maha Suci dari apa yang mereka pikirkan.
Tuhan bagi mereka tidak lebih seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini dalam bahasa “sedang menempuh ketiadaan yang tanpa batas” sebagaimana yang Nietzche akui.
Nah… Ajaibnya sekarang kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya –Sudah lihat rekaman “ada pemurtadan di IAIN” khan?- dan membuat plesetan tentang Allah gaya filsuf-filsuf Barat. Ini jelas sebuah bentuk kekufuran.. Sebuah guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi di kepalanya ada topi ‘cowboy alaska’ yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa pistol-pistolan ala cowboy. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.
Allah berfirman: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman (At-Taubah 65-66)
Sungguh konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidaklah demikian. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya Al-Qur’an diwahyukan. Hadits-hadits yang shohih pun telah begitu gamblang menjelaskannya. Para ulama juga telah memaparkan banyak hal kepada kita. Mengenal Tuhan pun merupakan landasan utama keimanan seorang muslim. Maka lihatlah betapa banyak pencari Tuhan yang bersih jiwanya menemukan-Nya dalam Islam namun tidak sedikit pula mereka yang mengaku Islam karena ketidakbersihan jiwanya gagal menemukan Tuhan dan bertindak kufur. Islam tidak butuh Hermeneutika allegoris Plato apalagi literal Aristoteles. Mereka para filsuf itu bingung, dan semua teori mereka itu justru mengajak kita untuk bingung bersama mereka meninggalkan penjelasan Ilahi yang sangat gamblang.
Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap sesama manusia yang membentuk sains, individu dan masyarakat. Islam mebentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus, maka dari itu kita kenal konsep hablun minallah dan hablun minannas yaitu perintah untuk menjaga hubungan ketuhanan dengan sebaik-baiknya dan juga memperjuangkan hubungan kemanusiaan se-optimal mungkin dengan mencegah segala bentuk ifsad atau pengerusakan lingkungan. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya Barat menghujat Tuhan, maka itu berarti sun bona mixtra malis, alias mencampurkan antara yang haq dengan yang batil. *
Sunggu Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan
Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu
Yang menerima taubat siapapun jua
Yang Sempurna, Maha Besar dan Maha Tinggi
Tak satupun akal manusia yang dapat menjangkau kesempurnaannya
Karena setiap yang manusia gambarkan tentang Allah
Tentu bukanlah itu hakikatnya
Akan tetapi Allah lah jua pemilik adzab yang sangat pedih
Sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar
Mereka yang hatinya tertutup kotoran
Mereka yang pikirannya terbenam di lembah nista
Mereka anggap Dia rendah, sesungguhnya merekalah yang rendah
Mereka akan mati dan Allah tak akan mati
Tak ada yang tinggal kecuali tulang belulang mereka
Yang kelak akan dibangkitkan pada masanya dalam keadaan hina
Sedangkan orang yang sehat jiwanya tentu saja
Akan berjalan melintasi kehidupan fana dengan bijaknya
Mereka berjalan di muka bumi dengan seimbang
Mengharapkan Kasih sayang-Nya
Namun takut akan adzab-Nya
Karena Dialah satu-satunya Tuhan mereka
Tidak berbilang seperti yang lainnya
Buka Al-Qur’an anda dan resapi
- As-Syuura: 11
- An-Nahl: 60
- Al-Kahfi: 49
- Fathir: 44
- Al-Ikhlas: 4
- Yasin: 82
- As-Shaffat: 180-182
- Al-A’raf : 182-183
- Luqman: 27
- Al-Furqon: 58
- Al-Isra: 36
- Al-Hasyr: 7
Wallahu a’lam bisshowab
*Disarikan(kalo tidak dibilang dicincang atau di tambal sulam
) dari tulisannya pak Doktor Hamid Fahmi Zarkasyi dalam sebuah Epilog Majalah ISLAMIA)
powered by performancing firefox









Mungkin dipikiran mereka yang namanya tuhan itu adalah badut/pelawak dari Yogyakarta, sehingga ia ketularan hobi ple-setan.
Salam Bahagia………..
Demikianlah pandangan manusia, yang berbeda-beda latar belakang. Kita Sebagai bangsa timur yang penuh sopan santun seharusnya bersikap gigih untuk membangun diri dan BERUSAHA dengan SUNGGUH-SUNGGUH, agar keberadaan kita tidak merugikan DIRI dan ORANG LAIN.
Saya kira itu yang lebih penting sekarang dan saat ini.
Tuhan Maha Suci, tidak bisa digambarkan seperti Sifat Manusia yang Belum Suci, Kecuali yang BENAR-BENAR SUCI.
Semoga Semuanya Berbahagia dan dapat menemukan jalan kebenaran …………
Semogalah………………………………..
Yang mereka maksud tuhan disini tuhan beneran atau yang disembah manusia? Kalo yang dimaksud tuhan beneran berarti mereka percaya keberadaan tuhan dong. Apa Darwin juga ikut memprovokasi untuk membunuh tuhan? Saya kok belum tau.
Tuhan… walaupun kata ini sudah ma’ruf di kalangan masyarakat kita, namun tampaknya tdk benar bagi umat Islam…
God… Ustadz Abu Ameenah Bilal Philips mengkritik penggunaan kata ini, karena God memungkin adanya Goddess (tuhan wanita/dewi), yang yang lebih tepat adalah lord… demikian pula dijelaskan oleh al-Akh Haneef James Oliver dalam “Wahaby Myth”. Bible pun juga menggunakan kata lord atau Elia, Eloi, atau semisalnya yg merupakan bahasa (baca : aksen) Ibrani untuk Alloh…
Alloh adalah ism alamiah bagi Lord atau sesembahan yang haq yang menciptakan alam semesta, mengatur dan memilikinya…
Kenapa mendebatkan eksistensi lord? orang yang mengingkari eksistensinya adalah orang yang tidak punya akal, karena akal sehat dan fithrah lurus mengarahkan bahwa tuhan itu ada. Karena bertuhan adalah naluri setiap makhluk…
Adapun perdebatan kalamiyah ttg Tuhan, adalah perdebatan yg tidak berfaidah melainkan hanya berputar-2 membuktikan sesuatu yang telah pasti ada…
Manusia itu kalo memikirkan mengenai Tuhan itu gak ada habisnya….
manusia emang makhluk yang paling sombong …
Ada beberapa pertanyaan mengenai keTuhanan yang harus kita cermati dengan hati-hati. karena bisa jadi pertanyaan itu adalah pertanyaan yang salah. ketika pertanyaan yang salah itu dijawab, maka jawabannya akan salah.
“Kenapa Mereka Memplesetkan Tuhan?”
Karena otak mereka juga terpleset sehingga logika dan nurani mereka pun ikut terpleset. Mereka belum cukup membuka mata telinga dan hati mereka, belajar menjadi sok pakar dengan memplesetkan Tuhan tapi sebenarnya dangkal jalan berpikirnya. Buat orang-orang seperti ini saya titip salam, “jangan sok pakar, om2… sekolah yang bener dulu baru ngomong masalah tuhan yang gak bakal nyampe logika ente-ente pada…”
Biadab ya!
Assalamualaikum.. wr wb
Kenapa mereka memplesetkan TUHAN..?
Karena tidak ada lagi segolongan Ummat yg berusaha “mengenalkan” TUHAN kepada manusia, “mengenalkan” ALLAH.
Thn 571 Masehi telah lahir manusia sempurna yg diutus oleh ALLAH, untuk “mengenalkan” ALLAH kepada manusia, dialah Muhammad Shallallahu ALaihi Wassalam.
Dengan usaha beliau, manusia yg tadinya jahiliyah, kasar, brutal, berubah menjadi Mujahid-mujahid yg Taat, Sabar, Tawaqal, Lembut, Qonaah…
Dalam waktu 23 tahun saja Masyarakat Jahiliyah ini berubah….
Kini…
Apa yg beliau lakukan pada “masyarakat jahilyah itu”?
Beliau kenalkan AGAMA. Beliau kenalkan ALLAH.
Usaha mengenalkan AGAMA dan mengenalkan ALLAH, ketika beliau wafat belau serahkan kepada Sahabatnya, terus berkelanjutan begitu semestinya…
Kini…
Adakah Segolongan Ummat yang mengambil Usaha itu?
…………………………………………………………………………….
Ngomentarin Judul:
Kenapa? Karena tuhan itu Maha Humoris
Komentar terhadap tulisannya nanti.
Ooooh… gitu… Jadi nietje, barat, kristen, teolog2 barat itu semua jelek, yang paling hebat itu Islam. Oke sip!
Eh, ini usaha membela Tuhan ya?
mas wedehel..
ALLAH tak perlu dibela, ALLAH MAHA HEBAT, MAHA JALAL, justru kita yg perlu “pembelaan” dari ALLAH.
Manusia cuma bertugas “mengenalkan” atau “memperkenalkan”, ini lho … ALLAH, yg Maha Pengasih, Penyayang, Maha Pemberi Rezeki, Maha Memelihara…
Kalo sudah kenal, maka manusia akan dekat kepada ALLAH, dan kalo sudah dekat akan mudah mendapat “pembelaan” dari ALLAH…..
Tuhan itu katanya punya tangan
Tuhan itu katanya punya kaki
Tuhan itu katanya bersemayam di singgasananya.
Tuhan itu katanya punya betis
Apakah Tuhan seperti itu yang akan kita perkenalkan? Tuhan yang mempunyai sifat makhluk?
@helgeduelbek
Hmmm.. ada apa ya dengan pikiran mereka?? kebanyakan nonton ketoprak humor kali ya
@ROCH AKSIADI
Allah tentu Maha Suci, Dia lah yang menurunkan kitab yang benar2 suci yang dari sana hambanya yang beriman mengambil pelajaran, orang yang berusaha mengenali-Nya dengan baik tentu akan mencintai-Nya. Orang seperti ini tentu akan selalu membahagiakan orang lain karena dia tahu Allah itu Ar-Rahman-Maha Pengasih-. Semoga kita menjadi orang yang demikian itu.
@muftisip
Fithroh atau naluri sehat setiap manusia meyakini adanya Tuhan, namun sebagian orang mencoba melawan itu, akhirnya hidup mereka dunia akhirat pun tersiksa dan semakin menjadi-jadi. Bukankah Darwin mencoba membangun sebuah teori yang menafikan kekuasaan Tuhan dalam proses penciptaan?!
@abu salma
Maka dari itu “La ilaha illallah” tentu salah jika diartikan tiada tuhan selain Allah, yang tepat adalah “tiada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah”. Karena tuhan-tuhan itu banyak termasuk harta, hawa nafsu dan tuhan2 buatan lainnya, sedangkan yang patut disembah dan di ibadahi hanyalah Allah semata.
@kakaceria
Akal kita terlalu pendek untuk itu, tugas kita hanyalah mengimani apa yang telah dijelaskan oleh apa yang telah diwahyukan-Nya
@rizko
Iya..Padahal Rasulullah sudah pun telah bersabda: “tidak akan masuk surga orang yang dihatinya bersemayam kesombongan walau secuil saja”
@ressay
, benarkan dulu pertanyaannya baru jawab yak.
kalo pertanyaannya aja salah apalagi jawabannya
@biho
memang sih..
@abdullah
wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.. manusia sering lalai karena berbagai faktor, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menjadi pengingat kepada diri sendiri dan manusia bahwa kita hanyalah makhluk lemah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas perjalanan hidup yang sementara ini
@wadehel
saya berlepas diri dari komentar anda terhadap tuhan anda. Dan tuhan saya Allah Maha Suci dari yang di persangkakan makhluknya.
Adapun maksud saya dari tulisan ini sama sekali tidak ingin menjelek-jelekkan pihak manapun, seandainya sebuah nasehat dapat dipahami dengan pikiran terbuka tentu hubungan manusia akan menjadi semakin indah. tentu saja banyak kebaikan yang dapat kita tiru dari barat berupa kemajuan sains dan teknologi, namun kita tidak dapat memungkiri bahwa barat tengah berada dalam sebuah kekeringan spiritual dan kegalauan hidup. Sebenarnya yang saya kritisi dalam tulisan ini hanyalah sikap petantang-petenteng sebagian mahasiswa yang “mengaku” muslim yang pikirannya ngeres terhadap Sang Pencipta, mereka tidak berusaha meniru kemajuan sains dan teknologi, malahan kekeringan jiwa itu yang mereka adopsi. hati mereka menjerit tapi wajah mereka dipaksa tersenyum.
@abdullah
seandainya seluruh manusia ini kafir, tentu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kekuasaan Allah, begitu pula seandainya seluruh manusia ini beriman tentu tidak akan menambah sedikitpun kekuasaan Allah. Toh ibadah kepada-Nya itu untuk kembali kepada manusia itu sendiri.
@ressay
Tidak selayaknya kita berfikiran rendah terhadap Allah, kita memohon ampun kepada-Nya atas kekhilafan kita. bukankah Allah memiliki sifat kasih sayang, manusia juga khan?! Allah memiliki kekuasaan, manusia juga ada yang berkuasa, ketika dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa Ia memiliki tangan janganlah kita berpikir secara serampangan bahwa tangan Allah selayaknya tangan manusia, Bukankah itu terlalau keji?! persamaan nama tidaklah mengharuskan persamaan hakikat sesuatu, apakah si muhammad masa kini sama dengan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, tentu bagaikan langit dan bumi?! renungkanlah saudaraku..“Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya dan Dialah yang maha mendengar lagi maha melihat“(As-Syura: 11)
Allah di Al-Qur’an berfirman bahwa Diri-Nya memiliki tangan, wajah dan bersemayam di arsy-Nya. apakah kita akan menerima artian itu mentah-mentah? Mengapa kita tidak mengeksplore lagi apa maksud dari tangan itu? Apakah tangan itu bersifat fisik ataukah bersifat metafora?
Misalnya:
(Allah SWT berfirman kepada Nabi Nuh AS)”Dan buatlah bahtera itu dengan (di bawah) mata Kami.” (Hud: 37).
“Yang belajar dengan (di bawah) mata Kami (tajri-bi-’aiyunina).”(al-Qamar: 14).
“Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”(Al-Rahman: 27)
Jika kita tidak mengeksplore makna suatu kata, lalu bagaimana kita akan bersikap ketika kita membaca ayat yang mengatakan:
“Aku akan pergi menghadapTuhanku. Sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (al-Saffat: 99).
Apakah Anda hendak mengartikan bahwa Ibrahim berjalan lalu pergi menemui Tuhannya?
a) “Dia menurunkan kamu lapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.” (al-Zumar: 6)
b) ” Dan turunkan kepada kamu besi, yang mempunyai daya kekuatan yang hebat…”(al-Hadid: 25)
Apakah Anda hendak mengartikan bahwa turunkan/menurunkan disitu berarti diturunkan oleh Allah SWT dari langit/atas?
Allah itu Satu. Tetapi apakah satunya Allah sama dengan satunya makhluk?
Menurut saya, tidak..!
Satunya Allah adalah satu hakiki. tetapi satunya kita adalah satu kesatuan, satu yang terdiri dari beberapa bagian. jika kita berpendapat bahwa Allah mempunyai bagian2 tubuh (tangan, wajah, dll) maka kita telah menempatkan posisi Allah dalam posisi makhluk.
Mas Yasser yang baik, tentu saja kita berusaha megeksplore makna yang terdapat dalam Al-Qur’an, untuk itulah kita perlu mempelajari ilmu tafsir..
Namun ada bagian-bagian tertentu dimana kita harus berhenti disana dan memilih diam terhadap hal-hal yang tidak kita ketahui. Tajri bi a’yunina secara bahasa dengan sangat mudah kita pahami bahwa perahu nabi Nuh berjalan dibawah pengawasan Allah sebagaimana dalam bahasa arab sering diungkapkan “fulan yasiiru bi’aini” si fulan berjalan dibawah pengawasanku, tidak ada yang memahami bahwa sifulan jalan jalan mengelilingi retinaku, sungguh menggelikan bukan? begitu pula contoh2 lain yang mas sebutkan saya rasa sudah cukup jelas secara bahasa.
Namun ketika kita kita masuk ke wilayah sifat Allah maka janganlah kita bertindak gegabah, ketika ada seorang yang mengingkari bersemayam(beristiwa’)nya Allah diatas ‘arsy kemudian mereka memalingkan kata istawa’(bersemayam) dalam ayat tersebut menjadi istawla’(menguasai setelah merebut kekuasaan sebelumnya) maka mereka dibingungkan tentang siapa yang menguasainya sebelum Allah. begitu juga ketika mereka mengingkari makna tangan Allah sesuai dengan keagungan-Nya -yang hakekatnya kita kembalikan kepada Allah-, kemudian mereka memaknai tangan tersebut dengan kekuasaan, mereka lagi2 terbentur dengan firman Allah “bahkan kedua tangan Allah terbentang”(Al-Maidah:64)”ups, berarti ada dua kekuasaan tho, mereka pun terdiam membisu?#
Maka apa yang Allah tetapkan berupa bersemayam di atas ‘arsy, memiliki sifat pemaaf, pengasih dan sifat2 lain yang satu sama lainnya berbeda,turun ke langit dunia, mendengar, melihat, datang pada hari kiamat, memiliki kekuasaan, tangan, wajah dan lainnya, maka kita sucikan semua itu dari penyerupaan terhadap makhluk. “Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(A-rRuum:27)
Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang santun, untuk lebih panjang lebar tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah dalam pembahasan ini bisa lah kita sharing disini.
Wallahu waliyyuttaufiq
Assalaamualaikum wr wb,
Tanpa sengaja, mungkin ini juga Taufiq dari ALLAH, saya menemukan “Blog” milik ALLAH.
Link nya ada di blog saya
http://abdulsomad.wordpress.com
Menurut saya, kita harus menelaah lebih jauh apa maksud dari tangan, wajah itu. karena ketika kita tahu maksudnya, maka firman Allah itu adalah sia-sia. Kita sendiri tidak tau apa makna dari aya tersebut, maka tidak ada gunanya Allah berfirman seperti itu. sedangkan sifat kesia-siaan itu jauh dari Allah.
Secara bahasa ayat mengenai Nabi Nuh itu menunjukkan arti “mata”. Tetapi apakah kita akan menafsirkannya mentah-mentah tanpa menelaah kembali makna dibalik kata “mata” tersebut.
ketika kita mengatakan bahwa Allah itu ada di Atas langit atau Allah bersemayam di Arsy-Nya, maka secara tidak langsung kita telah menempatkan Allah pada ruang dan waktu. Padahal Allah terlepas dari ruang dan waktu.
Jika Allah itu ada di atas langit, maka pada saat yang sama Allah tidak berada di bawah langit. Jika Allah itu bersemayam di Arsy-Nya maka pada saat yang sama Allah tidak ada di luar Arsy-Nya.
Kembali pada tulisan saya yang pertama bahwa kita harus meneliti dulu sebuah pertanyaan sebelum menjawabnya. karena siapa tahu pertanyaan itu salah.
seperti misalnya:
Dimanakah Tuhan/Allah?
Menurut saya pertanyaan ini salah. Allah tidak terikat “dimana” karena Allah sendiri yang menciptakan “dimana” itu sendiri.
Dimana itu pertanyaan yang mengharapkan jawabannya adalah Tempat. sedangkan Allah tidak terikat ruang dan waktu.
Mohon maaf jika dalam penyampaian ini ada kata2 saya yang terkesan menggurui. saya tidak bermaksud menggurui Anda. saya yakin ilmu Anda lebih baik di bandingkan ilmu saya.
untuk lebih jelasnya, bacalah http://al-shia.com/html/id/index.php?p=6&part=1&url=books/Taqdir-e-Ensaan/index.htm
Untuk pertanyaan dimana Allah? silakan baca ini .
Kenapa? Krn “mereka” gak yakin Tuhan dah ngasih tahu kebenaran…..
hiks …
masih ada yg mo mencari allah … ?
mmmhhh …
wakakkakaaa …
Ilmu Kalam memang rumit. Berhati-hati sajalah, wahai saudaraku. Seluruh Imam Madzhab memperingatkan bahatanya memasuki ilmu ini tanpa bekal yang cukup…
Masalah plesetan, simbah tulis di sini
ass..
yang pingin lihat tuhan adalah orang yang paling bodoh sedunia…
alam saja ngak sanggup lihat tuhan apalagi yang namanya manusia..Masya Allah
Asalamualaikum wr. wb.
Di luar perdebatan antara kaum Atheis dan Monotheis, sekarang di barat sedang berkembang teori yang ‘agak’ mutakhir lagi, Intelligent Design. bisa dibaca di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligent_design
sebuah teori ketuhanan yang ‘agak’ diilmiahkan, menurut hemat saya. hmm..anyway, wacana ini kembali mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu, saat masih kuliah…. (tring..tring..tring….pandangan mulai kabur dan kembali ke masa lalu).
Dalam khutbah jumatnya, ustadz Aam Amirudin pernah melontarkan pertanyaan begini (ngga persis sama sih). “Mengapa kita punya agama (Islam)? Mengapa kita meyakini agama (Islam)sebagai jalan hidup?”, pertanyaan retorika sebenarnya, tetapi jawaban ustadz Aam seolah2 menampar pikiran saya yang sudah lama tertidur ini. jawabannya satu, karena kita, mereka (para muslimin dan muslimat di seluruh dunia) percaya ada kehidupan setelah mati. titik.
Kenapa mereka memplesetkan tuhan? Karena mereka sudah terpeleset duluan
Mantap Mbah dipo… bener bener harus hati hati
[...] c. Kenapa Mereka Memplesetkan Tuhan [...]
@ucok
Kalau gitu Tuhan anda mirip-mirip sama Zeus dalam mitologi Yunani dimana semua mahluk yang melihatnya dalam wujud aslinya akan mati tersambar petir (termasuk ibunya Hercules) Sama juga dengan kisah Mahabharata, ketika Arjuna meminta Krisna untuk memberitahunya apakah yang disebut dengan ‘Kebenaran Sejati’. Ketika Krisna menampakkan wujud aslinya sebagai ‘Dewa’ untuk menerangkan hal tsb, Arjuna begitu ketakutan hingga tak bisa berkata-kata.
Oya mungkin ini juga alasan kenapa Tuhan memakai perumpamaan hingga ‘Allah di Al-Qur’an berfirman bahwa Diri-Nya memiliki tangan, wajah dan bersemayam di arsy-Nya.’ yang disebutkan mas Ressay. Karena mungkin Tuhan menganggap pemahaman makhluk-Nya tidak akan bisa menjangkau-Nya.
Salam,
Mengapa ya, kita sulit untuk mencoba memperhatikan sesuatu yang berbeda, misalnya seperti Mas Ichsanmufty dengan Mas Ressay…, apakah memang kebenaran masing-masing sudah ditetapkan…, atau memang letaknya pada “Demi Masa”,
Bila saya coba memperhatikan penyampaian Ichsanmufty, maka koridornya adalah pada kehati-hatian pada sikap, sedang Ressay kehati-hatian pada Kalam, ini sekedar pandangan, benar tidaknya tentu pada balik dada masing-masing…
Pandangan sikap, baik, namun sering menjadi kepura-puraan dan pembohongan pada diri sendiri, sebab adanya pemaksaan pada perilaku, karakter individu itu sendiri, dan biasanya siindividu merasa kondisinya sudah sama dengan yang difahami sebagai sikap yang benar maka bertenang dirilah dia. namun ada pernah terbaca di Al-Qur’an bahwa yang hendak dilihat apa yang dibalik dada,
Aspek kehati-hatian pada kalam, oleh karena adanya suatu pandang yang dipandangkan pada seseorang tentang apa yang terbaca pada Kalamullah, sering sekali dipandang sesuatu yang menyulitkan, sehingga tidak sedikit yang memberi respon “berhati-hatilah”, beberapa pandangan, seolah-olah pengulas kalam, mampu mengulas sendiri kefahamannya, (atau memang demikian…?), Ilmu Laduni, beberpa orang berpendapat tentang kefahaman Kalam, yang sebenarnya karena adanya pentaqwilan Allah pada hati hambaNYA, dan mustahil memahami kecuali apa yang Allah fahamkan, seperti Firman Allah” kami jadikan engkau bisa membaca, seehingga tidak lupa”, demikian pula dengan Adam AS, dimana setelah diberikannya beberapa nama, lalu Adam menjadi faham.
Kalam, mestinya jadi petunjuk, karena itulah yang diungkapkan pada ayat kedua dari Al-Baqarah…mohon maaf atas penyampaian…
orang barat,mungkin tidak pernah kenal nabi apa ya? pantas tidak ada yang mengenalkan mereka pada tuhan. sekali mereka ditunjukkan seorang mulia bernama isa (baca:yesus), diangkatlah dia jaid tuhan. lalu, ketika masyarkat muak dengan prilaku ‘para pewaris otoritas tuhan’,pada puncaknya, disembelihlah mereka punya tuhan. ini manusia tolol murakkab.. arang iblis saja tidak berani kayak gitu, ee, mereka denghan santainya.
tapi, ada juga yang lebih tolol. mereka telah diperkenalkan kepada tuhan (baca:Allah), lalu diberi ijin untuk meminta dan dikabulkan, ee malah kini jadi seperti orang2 bbarat tak bertuhan itu. otak dasar otak tikus!
mungkin kini mereka bisa santai dengan pengingkaran itu, bis mereka lupa akan perjanjian azali yang dulu telah mereka sepakati, namun nanti…..
sesungguhnnya kita berlindung dari hal itu. yaa Allah, hanya pada kau-lah kami bisa meminta, dan sungguh sebaik-baik pinta adalah poerlindunganmu dari dosa yang membuat kami tidak mendapat surgamu.
He..he..Buat mas Ichsanmufti..tetap semangat, karena kami masih sangat butuh artikel2 dari anda buat tambah ilmu dan memperkokoh ke Imanan…Amiin..
hari gini masih menanyakan tuhan ?
ya Allah semoga mereka diberi ampunan, hidayah serta pengetahuan yang lebih tentang segala sesuatu tentang Mu ya Rabbi.., _ apakah mereka telah mendengar tentang stunami ? atau 11 september atau dulu tentang tambora ? saya kira semua adalah tanda kekuasaannya yang sangat memperlihatkan keberadaannya…
de maulana 022 70408090 bandung jawa barat
hari gini masih menanyakan tuhan ?
ya Allah semoga mereka diberi ampunan, hidayah serta pengetahuan yang lebih tentang segala sesuatu tentang Mu ya Rabbi.., _ apakah mereka telah mendengar tentang stunami ? atau 11 september atau dulu tentang tambora ? saya kira semua adalah tanda kekuasaannya yang sangat memperlihatkan keberadaannya…
de maulana 022 70408090 bandung jawa barat
@Ressay
Saudaraku .. pertanyaan Dimanakah ALLAH bukan pertanyaan yang salah .. kenapa ..?
hal ini pernah ditanyakan oleh Rasulullah kepada seorang budak wanita ..
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :
“Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :
Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
Imam Muslim (2/70-71)
Imam Abu Dawud (No. 930-931)
Imam Nasa’i (3/13-14)
Imam Ahmad (5/447, 448-449)
Imam Daarimi 91/353-354)
Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212)
Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250)
Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122)
Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).
Nah .. apakah Rasulullah memberikan pertanyaan yang salah …??
Dan apabila antum menganggap dengan pertanyaan ini adalah bahwa ALLAH terikat ruang dan waktu maka antum sama dengan memposisikan ALLAH dengan sesuatu.
padahal ALLAH tidak ada yang menyerupainya (Lihat Al Ikhlash : ayat 4)
dan selain itu .. antum belajar bagaimana cara mensifati ALLAH, mensifati ALLAH adalah dengan cara :
1. Tidak Takwil (memberikan makna yang tidak sesuai)
2. Tidak Menyerupakan dengan makhluk
3. Tidak Menafikannya (Sifat ALLAHmemang haq)
4. Tidak bertanya dan membayangkan ‘bagaimananya’
Semoga ALLAH memberikan kita taufik ..
Allohu a’lam
Subhanakallohumma wabihamdika Ashaduallahu laa illaaha illa anta astaghfiruka wa’atubu ilaik ..
@Ressay
Saudaraku .. pertanyaan Dimanakah ALLAH bukan pertanyaan yang salah .. kenapa ..?
hal ini pernah ditanyakan oleh Rasulullah kepada seorang budak wanita ..
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :
“Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :
Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
Imam Muslim (2/70-71)
Imam Abu Dawud (No. 930-931)
Imam Nasa’i (3/13-14)
Imam Ahmad (5/447, 448-449)
Imam Daarimi 91/353-354)
Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212)
Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250)
Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122)
Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).
Nah .. apakah Rasulullah memberikan pertanyaan yang salah …??
Dan apabila antum menganggap dengan pertanyaan ini adalah bahwa ALLAH terikat ruang dan waktu maka antum sama dengan memposisikan ALLAH dengan sesuatu.
padahal ALLAH tidak ada yang menyerupainya (Lihat Al Ikhlash : ayat 4)
dan selain itu .. antum belajar bagaimana cara mensifati ALLAH, mensifati ALLAH adalah dengan cara :
1. Tidak Takwil (memberikan makna yang tidak sesuai)
2. Tidak Menyerupakan dengan makhluk
3. Tidak Menafikannya (Sifat ALLAHmemang haq)
4. Tidak bertanya dan membayangkan ‘bagaimananya’
Semoga ALLAH memberikan kita taufik ..
Allohu a’lam
Subhanakallohumma wabihamdika Ashaduallahu laa illaaha illa anta astaghfiruka wa’atubu ilaik ..