Pagi tadi siapa yang sangka bahwa saya harus pulang dari sebuah acara bincang bisnis bersama praktisi ekonomi syariah yang diselenggarakan di Masjid Syuhada Jogja dengan bertelanjang kaki. Kehilangan sandal di masjid..Mungkin hal ini hanya masalah sepele, namun jika dihayati lebih jauh maka kita dapat mengambil begitu banyak pelajaran darinya.
Kebanyakan dari kita mungkin sering mengalami hal yang serupa, yaitu kehilangan benda yang kita sukai, entah karena dicuri, dirampok, tertinggal disuatu tempat dan sebagainya. Saya sendiri sudah beberapa kali mengalaminya. Mulai dari kehilangan HP sebanyak 4 kali, dompet, laptop yang akhirnya berhasil kembali, sandal, tas, dan banyak lagi peristiwa kehilangan yang menimpa diri saya pribadi. Tapi setelah saya renungkan ternyata hilangnya benda-benda tersebut telah mengajari saya sebuah pemahaman yang lebih mahal dan jauh lebih berharga daripada benda itu semua. Kesabaran dan rasa syukur. Dua hal tersebut ternyata mampu menjadikan seorang manusia memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang meliputi seseorang di setiap kondisi kehidupan yang ia alami. Rasulullah sendiri pernah bersabda: “
Sungguh sangat menakjubkan keadaan seorang mukmin, seluruh perkara menjadi baik baginya. Sungguh hal tersebut hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Apabila kesenangan dikaruniakan kepadanya maka ia bersyukur dan itu baik baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, maka ia akan bersabar dan itu juga baik baginya”.
Kembali lagi ke masalah kehilangan. Sebenarnya Allah ingin melihat kondisi hati kita dengannya. Yakinkah kita dengan konsep inna lillah wa inna lillahi raji’uun-segalanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah pula-. Artinya, manusia hanya dititipi saja apa yang ia rasa miliki. Suatu saat kita pasti berpisah dengannya, jika bukan harta benda tersebut yang meninggalkan kita maka suatu saat kita lah yang akan meninggalkan harta benda tersebut.
Jika suatu ketika kita merasa susah bukan kepalang terhadap sebuah kehilangan maka cek lah kembali hati kita, jangan-jangan hati kita sudah terserang penyakit cinta dunia. Karena ternyata saat kita kehilangan sedikit saja harta dunia, bagi kita sudah menjadi musibah yang kolosal layaknya. Kenapa saat kita gagal mempertahankan keuntungan yang rutin dalam usaha kita, kita anggap seakan sebuah malapetaka hebat. Dalam kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad, Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Aku pernah berjumpa dengan sekelompok orang yang tidak pernah merasa terlalu gembira dengan bagian dunia apa pun yang mereka peroleh, dan merekapun tidak pernah merasa sedih bila kehilangan sebagian dari bagian dunia mereka.”
Lagi pula cobaan yang menimpa kita yang hanya kehilangan benda kecil tidaklah ada apa-apanya dengan yang dialami oleh mereka yang tertimpa musibah besar dibeberapa bagian negeri ini.
Ada sebuah cerita yang menarik ketika saya menumpang KRL dari Pasar Minggu menuju Bogor beberapa tahun lalu. Ada seorang bapak tak jauh dari tempat saya berdiri kecopetan sebuah HP yang diakui baru dibelinya, setelah grasak-grusuk namun tak mampu mencari siapa yang mengambil HP beliau, akhirnya sebuah kalimat terlontar dari bibir beliau “Hehe… Musibah yang dialami orang aceh akibat tsunami jauh lebih besar daripada hanya sekedar kehilangan HP”, dan bapak itupun kembali seperti sedia kala dalam ketenangan atas kesabaran dan kesyukuran sekaligus. Tak mustahil gaya berpikir positif seperti itu akan menjadikan beliau mampu membeli berpuluh-puluh HP lainnya. Karena hidupnya selalu positif dan akan membuahkan hal yang positif pula.
powered by performancing firefox









Makanya sering orang indonesia meskipun kenak musibah asal masih hidup iya pasti berucap ” untung tidak…” apakah itu juga pertanda bahwa dihati orang Indonesia masih ada iman-nya?
Hati manusia siapa yang tau… perkataan tersebut tentunya jangan menghalangi kita untuk berintrospeksi, mungkin ada yang salah dengan kita selama ini, sehingga musibah begitu akrab dengan kehidupan kita.
Tapi tentu saja hal tersebut juga jangan disalah tempatkan, misalnya ketika melihat ketertinggalan negeri dibanding bangsa lain kita malah bilang “untung” masih lebih maju dari negara2 yang jauh lebih melarat”. Ini tentu saja salah. Bukan malah berpikiran positif justru menimbulkan dampak negatif yang parah.Bukan begitu pak guru
Ya semua yg kita miliki ini milik Allah kita hanya di pinjami saja, tapi bukan berarti give up harus berusaha hati2 juga, kalau sudah usaha baru berserah diri, begitu to…kang Ichsan?
Iya nih mbak, sering kali hal tersebut terjadi akibat kelalaian kita sendiri. tertinggal suatu barang misalnya atau tidak waspada dalam kerumunan manusia yang potensial sekali terjadi pencopetan disana. Tapi kalau pun sudah terjadi barulah kita berserah diri, setuju saya.
stuju sm Senyumsehat…
Kita mmg tak benar-benar memiliki karena sudah ada Pemilik Sejatinya. Tapi di lain sisi juga, misalnya ketika kehilangan berkali-kali.
Kan dibilang kita akan diuji dengan ujian yg sama sampai kita lulus ujian ttg itu. Skrg ni, ujian kehati-hatian misalnya. Jadi lain kali harus lebih hati-hati lagi, biar ga kehilangan lagi…
artikel bagus
http://mfahmia2705.blogspot.com/2006/09/sharing-agar-sandal-tidak-hilang.html
ironis juga ya..kalo di masjid2 ada tulisan HATI2 DENGAN BARANG2 ANDA….
kayaknya masjid jadi sasaran empuk orang tukang nyolong…
@luthfi
whuahaahaa.. itu tifs najis banged sich mas
tak hilang sebelah malah plus gembox : ))
@antobilang
Mungkin karena dimasjid orang2nya pada ikhlas kali yak, jadi malingnya pada ngga takut diproses kalo ketauan
semoga maling2 yang pernah beroprasi di masjid segera mendapatkan hidayah karena kebetulan pas mo nyolong kecantol pengajian..:D
Kata yang mengambil sendal : ambilah yang baik dan tinggalkanlah yang buruk. Lalu sambil tersenyum sepulang mohon ampun dari mesjid, maka dipakailah sendal punya jemaah lain.
sabar yaa san, semoga diganti dengan sendal yg lebih baik
dan mungkin lain kali bisa lebih berhati-hati dan ditingkatkan ikhtiarnya dengan menitipkan sendal nt ke tempat penitipan, atau masukin aja ke plastik/tas ; )
‘asa robbunaa an yubaddilaka khoiron minhu
salam kenal…
Berarti Tuhan masih sayang sama mas… coba kalau tidak ada kejadian seperti itu, apa akan mengenal sabar dan ikhlas. tapi perlu di ingat semakin anda sabar dan ikhlas maka semakin banyak cobaan yang akan berdatangan, tunggu saja cobaan yang lain yang lebih berat, apakah anda akan selalu sabar dan ikhlas dan mendekatkan Alloh swt, atau akan lari dari itu ha……..
“ambil yang bagus buang yang jelek” .. yg ngambil juga menerapkan perintah agama.. *ngakak..*
Assalamu’alaikum, wr.wb. Tulisan di atas mengingatkan kita bahwa semua yang kita punya hanyalah titipan Illahi, jadi jangan pernah kita merasa sombong dengan apa yang kita punya.Bersyukurlah kita selagi Allah masih sayang sama kita dengan memberikan peringatan2 dalam hidup ini. Kalau kita ikhlas menerimanya….InsyaAllah Allah akan menggantinya dengan yang lebih besar…..amin.
Wassalamu”alaikum
Ass. Sikap seperti itu akan membuka lebih luas pintu rezeki……! tapi ingat qta jg perlu ngasih solusi sama si tifz ! klo k tangkep kasih pelajaran biar kapok, klo nggak ya doain aja biar insyaf kang….. Wass
Baca tulisan ini saya jadi ingat kejadian sekitar setahun yang lalu…
Sekitar setahun yang lalu sebelum mengajar saya sholat Dhuhur dulu di masjid dekat tempat saya mengajar. Setelah selesai sholat… Ya Alloh, sepatuku tidak ada.
Saya positif thinking sj, mungkin saya yg lupa menaruhnya. Saya keliling sekitar masjid kok tetap tidak ketemu juga sepatu saya..ooh mungkin ada yang lebih membutuhkan sepatu saya daripada saya.
Akhirnya saya beli sandal jepit dan masuk kelas dengan sandal jepit sehingga siswa2 saya pada kaget dan tertawa.
Yang membuat sedih sebenarnya sepatu tsb baru saya beli untuk menggantikan sepatu lama yang sudah rusak, padahal untuk beli sepatu itu kan saya harus menunggu gajian. Nasib…tapi gak papa lah namanya juga rejeki.
Upss kok jadi curhat
…maaf mas Mufti
[...] Asyiknya Sholat di Mesjidil-Haram b. Kehilangan Sandal … Investasi Kesabaran c. Kalo Suami Lagi WP d. Barisan Menuju Mahsyar [...]
[...] Kehilangan Sandal … Investasi Kesabaran [...]
Hmmmm… pada akhirnya memang kita perlu lebih mendalami makna dari Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Dan lebih bersyukur. Btw, selamat atas terpilihnya tulisan ini menjadi Top Spiritual Post