Hari demi hari peradaban umat manusia semakin mengalami kemunduran spiritual. Kebanyakan mereka tak kunjung berhasil mencari kebenaran, yang mereka lakukan hanyalah “re-search” yaitu mencari sesuatu dan mencari lagi, ketika mereka hampir atau sudah menemukannya, mereka ingkari apa yang mereka cari tersebut, dan mereka pun mencari lagi sesuatu yang pada akhirnya mereka sendiri tak kunjung temukan. Tentang kebenaran, tentang kehidupan, tentang makna di balik materi, tentang kematian. Tentang bagaimana mendudukkan posisi umat manusia, dalam bahasan ini kita khususkan tentang Wanita.
Seperti kata Philip J. Adler dari East Carolina University dalam bukunya World Civilizations (2000) yang menggambarkan bagaimana kekejaman barat dalam memandang dan memperlakukan wanita. Karena terpengaruh oleh konsep Kristen tentang Eva yang digoda oleh setan sehingga menjerumuskan Adam, sampai abad ke-17 masyarakat Eropa masih saja menganggap wanita sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia.. Kemudian Adler mengutip perkataan seorang penulis Jerman bahawa: it is a fact that women has only a weker faith (in God). (Adalah fakta bahwa wanita itu lemah dalam kepercayaannya kepada Tuhan.) Dan itu, kata mereka, sesuai dengan konsep etimologis mereka tentang wanita, yang dalam bahasa mereka di sebut ‘female’ berasal dari bahasa yunani ‘femina’. Kata ‘femina’ berasal dari kata ‘fe’ dan ‘minus’. ‘Fe’ artinya ‘fides’ ‘faith’(kepercayaan atau iman). Sedangkan ‘mina’ berasal dari kata ‘minus’, artinya ‘kurang’. Jadi ‘femina’ artinya ‘makhluk yang imannya kurang’ (one with less faith). Karena itu, lanjut penulis : “the female is evil by nature”. (Wanita memang secara alami merupakan makhluk jahat)
Pembantaian wanita di Eropa terjadi pada abad ke-17, yaitu 10 abad setelah Islam menyelesaikan konsepnya tentang wanita dan mengangkat mereka menjadi makhluk yang sangat terhormat. Namun kini, barat yang dahulunya terjatuh dalam kutub ekstrem tersebut sekarang terperosok kedalam kutub ekstrem yang lain.
Jika dulu mereka menindas wanita sebuas-buasnya, maka sekarang mereka melepaskan wanita sebebas-bebasnya, sampai nyaris tanpa batas. Mereka memandang bahwa wanita adalah ‘keindahan’, dan harus dipakai serta ‘dinikmati’ oleh masyarakat. Kecantikan harus di umbar se-umbar-umbarnya. Ini terjadi karena budaya mereka bertumpu pada budaya Syahwat. Untuk melampiaskan nafsu mereka dibuatlah kontes-kontes kecantikan. Walaupun pesertanya sedikit dipoles dengan beberapa bagian tentang intelektualitas, namun tetap saja fisik yang merupakan sesuatu yang ‘given’ menjadi syarat utama.
Islam tentu tidak akan merestui konsep peradaban seperti itu, ketika seorang hanya dihargai bukan karena usahanya, namun lebih kepada hal-hal yang alamiah melekat pada dirinya. Karena seorang yang diciptakan sebagai cantik atau jelek itu adalah takdir. Tidak ada usaha untuk merubahnya, yang ada adalah merawat yang sudah ada dan menjaganya agar tidak menjadi sarana kemaksiatan.
Banyak kalangan seniman, pengasuh media massa, cendekiawan, policy maker bahkan blogger yang masih menganut paham ‘relativisme’ atau kenisbian nilai, sehingga batasan pornografi sebagai pelecehan dan penyampahan wanita, halal dan haram menjadi kabur dan sangat tergantung kepada persepsi masyarakat. Ya.. Masyarakat yang tengah dilanda kekeringan jiwanya, terliputi kabut mata hatinya dan hati mereka keras membatu.
‘Boleh’ dan ‘tidak boleh menjadi relatif. Sebab parameter yang digunakan pun tidak jelas, yaitu perasaan manusia, atau ‘nafsu manusia’. Jika tolak ukurnya adalah ‘syahwat’ maka cara-cara eksploitasi wanita yang mengumbar aurat akan memperoleh dukungan masyarakat. Itulah yang saat ini terjadi atas masyarakat dan negara yang tidak berpegang kepada ketentuan-ketentuan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Padahal sesuai dengan ketentuan Allah, halal dan haram sudahlah jelas. Aurat wanita pun telah jelas diterangkan. Mana yang boleh diperlihatkan, mana yang wajib ditutup. Semuanya demi kepentingan wanita, bukan siapa-siapa.
Sayang, dalam banyak hal, umat Islam mudah memberi respons jika diserang secara fisik; seperti kasus Palestina, Irak, dan sebagainya dan mudah berasksi secara fisik pula namun lamban dalam merespons perang pemikiran yang sedang dibangun oleh orang-orang yang memusuhi Islam dan membangun kekuatan ideologi yang kokoh. Saat ini “orang yang beriman dan berjuang untuk menyebarkan keimanan yang indah itu” tak henti-hentinya mengelus dada bersabar ditengah berbagai ujian, seraya mengatur kembali langkah yang selama ini mungkin saja salah. Karena ternyata upaya untuk memperbaiki umat terasa semakin deras tertimpa badai. Tuntutan untuk bermain secara lebih cantik dan cerdas, penuh hikmah serta doa yang berkepanjangan adalah sebuah keharusan dalam perjalanan dakwah hari ini, esok, lusa dan entah sampai kapan..??
** Mungkin sampai bumi ini digulung dan manusia semua binasa, dan tanda-tanda itu pun semakin jelas di mata.
powered by performancing firefox








Siapakah yang memalangkan wanita? apakah para pria atau dirinya sendiri. Adakah peran Allah di sini sehingga menakdirkannya demikian?
Ya betul Ichsan tulisannya bagus, wanita makhluk mulia dan harus di muliakan bukan di jadikan obyek, tapi sayangnya banyak laki2 yang tidak mencontoh nabi, suka lihat wanita yg cantik dan sexy dan tidak memuliakan wanita…
Heran sungguh heran…
Disanjungkan, dirinya menghinakan
Dijagakan, dirinya melepaskan
Dimuliakan, dirinya memalangkan
Masya Alloh…
Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para feminis…
yang untung siapa, laki2 khan hehehe. yang udah pasti pakaian mereka semakin terbuka sementara laki2 semakin tertutup, bangga kalau dipanggil hai sexy :), bangga kalau banyak yang ngeliatin, bangga gak pake baju dan yang sekarang kayaknya udah trend nih, bangga kalo udah g ak perawan lagi…
Tulisane seakan yang sangat bersalah adalah si wanita! padahal ga semua wanita seperti itu. walau ana bukan aliran feminis.
lain kali ku mau buat tulisan, lelaki-lelaki, malng kian nasibmu kini. tunggu aja tanggal mainnya
# buwat ummu salma : met kenal bu.. anakknya lucu kapan kapan boleh minjem?
@Helgeduelbek
manusia pastinya..
@Evy
Iya sih mbak, tapi sayangnya banyak juga wanita yang mengobjekkan dirinya jaman sekarang ini.. Hmmm
@Aswad
Diagungkan, dirinya meng”obral”kan
@Ummusalma
Semoga.. Tapi makna feminis tu sebenarnya bagus sih, yaitu mereka yang ingin agar kaum wanita kembali memperoleh kedudukan yang mulia dalam kehidupan, namun sayangnya paham tersebut telah kebablasan kini, karena standar kemuliaan yang hanya berdasar hawa nafsu tadi.
@Rizko
Itu sih Untung dunia rugi akhirat namanya.
@wardah el shafa
Sebenarnya laki-laki dan wanitanya sendiri sama-sama bersalah dalam permasalahan ini, hanya saja yang menjadi korban selalu saja wanita. Dan juga bukankah sebagian wanita secara sadar atau tidak ada yang menjerumuskan dirinya sebagai korban peradaban yang demikian rusak ini.. Hanya Allah tempat mengadu
btw ditunggu segera tulisan balasanya..hehe
Jadi intinya mendukung poligami tidak?
saya juga bingung, sebenarnya yang salah wanita yang suka memamerkan kecantikan ato lelaki yang lihat wanita hanya dari fisiknya ? (baca juga artikel saya
promosi hehehehe)cantik?ganteng?
Ass,wr.wb,
Sadarlah, ibu kita juga seorang wanita.
Berikan mereka hak mereka :
Hak untuk mencintai dan dicintai.
Ini artinya sangat luas, kita tidak bisa membahasnya dgn membuka Alqura’n saja , melainkan dengan beriman.
Wassalam.
Semua itu benar. saya sependapat dengan penulis. saya jg mempunyai pengalaman. Suasahnya menerapkan istri agar memakai jilbab. Haruskah ia terus membuka auratnya sampai mati? dengan kemauan yang kuat akhitnya saya bisa mrmbingbing dia untuk selalu berada dijalan islam. Terima kasih ya Allah. maju terus wanita islam Indonesia.
Assalamu’alaikum wr.wb
Walaupun saya sependapat dengan tulisan mas Ichsan dimana sekarang wanita menjadi korban dr eksploitasi nafsu tersebut, namun saya coba menggunakan sudut pandang lain.
Di Indonesia, ketika melihat wanita indonesia yg maaf-berpakaian seksi-mengapa ada perasaan ingin mengeksploitasi dia. Dan kayaknya nich dr wanitanya juga “ngga keberatan” di eksploitasi dng berbagai berhala seperti uang dan popularitas he..he dan akhirnya kita mengelus dada dan hanya bisa beristighfar..smg Alloh melindungi kita dr godaan syetan dan syahwat…tanpa bisa berbuat apa-apa.
Lain halnya di prancis, dimana banyak wanita cantik & berpakaian seksi tapi saya melihat tidak ada keinginan untuk mengeksploitasi mereka dari para kaum lelaki disini. Kelihatannya normal2 saja santai saja.
Karakter wanita disini sangat kuat, kesetiaan, harga diri dan berani berkata tidak. Pria disini sangat menghargai wanita, tdk akan menyentuh mereka sebelum sang wanita mempersilahkan sang pria, pemerkosaan dan pelecehan seksual di sini hampir nol persen. Hal ini terjadi karena sang wanita menghargai dirinya sendiri dan merasa dirinya terhormat, walaupun dengan parameter menunjukkan keseksian dan aurat mereka sebgai bagaian dr bentuk penghargaan pada diri mereka.
Berarti, ini berpulang kembali ke pembentukan karakter dan frame berpikir bahwa berjilbab adalah suatu yng sangat tinggi buat sebagaian wanita kita, yg belum berjibab. Kayaknya konsekuensi dng berjilbab itu akan semakin berat. Secara ngga sadar, alam bawah sadar saudari2 kita yng belum berjilbab pasti seperti itu, benar tidak?. Saya belum merasa pantas berjilbab, masih belum baik,dll. Seandainya paradigma yg dibangun bahwa dengan menutup aurat bagi muslimah itu sama ringannya dengan membuka pakaian di pantai bagi wanita barat, tentunya semua muslimah di Indonesia akan senang berjilbab semua.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Kembali ke Indonesia. Kita belum memiliki identitas budaya yng kuat termasuk penanaman karakter pada para pria dan wanitanya. Kalau budaya barat jelas mendengung2kan materalisme dan liberalisme. Sedangkan Indonesia? masih saja menjadi korban modernisasi yg memakan karakter kita sendiri, seperti tatakrama & budi pekerti kalo dlm tradisi jawa. Seakan gelombang modernisasi barat menjadi obat penawar bagi mereka yang tidak ingin merasa terbebani dan keberatan dng aturan-aturan agama, doktrinasi, dan tanggung jawab yg seakan menjadi bola dunia atas kepala saudari2 kita yang sedang ber-Islam.
Solusinya adalah, mari turun ke tanah mendalami realitas tanpa harus mengkritik dan berkeluh kesah, mari jadikan agama sebagai sebuah hal yang biasa untuk ditaati, karakter, dan kesenangan kita. Bukan sebagai kewajiban yang kita hanya berambisi untuk mendapat pahala. Bukan lagi saatnya kita mencari pahala buat diri sendiri, sama aja dong kita materalistis walau dlm bentuk lain :). Bagi ustadz bagi muslim yang bukan ustadz, bagi muslimah yang baik, kita semua sama. Kita tidak perlu mengkotak-kotakkan antara baik dan buruk disini. Sentuhlah saudara-saudari kita dengan pikiran yg terbuka dan kebaikan kalian, tentunya mereka akan merasakan energi positif kalian. Akhirnya, dng kterbukaan pikiran akan mendatangkan hidayah.Jadi santai saja, agama sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Ruh ini akan terbaca oleh siapa saja yang bergaul dengan kita. Kalau kita senang, ringan, dan santai dengan agama kita, tentunya orang lainpun akan menghargai agama kita dengan ketulusan dan bukan melihat kita sebagai orng2 baik diatas langit.
Wassalamu’alaikum wr.wb
gimanapun, wanita hanya diperalat memang. sebagai apapun… meski dari luar semua dilakukan semau dia, aslinya kan itu provokasi dari kaum adam sebagai penguasa hampir semua sektor kehidupan di bumi. wah, kalo inget sejarah wanita… aku pingin jadi feminis saja deh…
mas aswad, tau nggak rahasianya, karena wanita itu ingin dimnegerti hingga sampai ke lubuk perasaan yang dalam, hingga perasaan yang terdalam
ketika wanita membutuhkan itu, dengarkan dengan lembut tapi harus dihilangin dulu memori logistis otak …
coba raba dengan psikis cinta islami
sehingga wanita itu akhirnya mengerti ia benar2 terperhatikan oleh bidadaranya
sok tau ye … khanza
kata ‘wanita’ berasal dari ‘banita’, sebelumnya ‘batina’ dan yang paling dasar adl ‘betina.’
kata yang lebih bagus digunakan adalah perempuan yang berasal dari ‘empu’ atau ‘puan.’
jika orang menilai sesuatu berdasar cara pandang marxis,maka segala sesuatu akan tampak bertentangan. pertarungan antar kelas terjadi. termasuk kaitannya dengan laki-laki dengan perempuan.
islam tidak pernah meletakkan sesuatu bertentangan kecuali dalam perkara yang sedikit seperti keimanan dan kekafiran.
Allah menjadikan laki dengan perempuan berpasangan, saling melengkapi dan berjalan dalam suasana harmoni. keadilan islam jelas. karena ia berasal dari rabb semesta alam.
laki dengan perempuan harus diletakkan dengan adil. ada manzilah masing-masing. keduanya bertindak masing2 dalam peran mereka sesuai keinginan allah yang kodrati bagi mereka. yang menentang aturan semesta ini akan mendapati kerusakan yang besar. sebelum waktu terlambat, sadari itu.
perempuan keseluruhannya perhiasan. namun setan menggunakannya sebagai alat penghancur, dan Nabi saw takut akan kehancuran umat ini yang menyerupai alim2 yahudi dan nasrani dulu. wanitalah penghancur itu.
namun jika ia berjalan dalam koridor yang diingini allah maka bangsa akan menjadi bangsa, kaum akan mengisi yaum, dan surga akan menanti bagi si perempuan dan laki2 yang beruntung mendapatkannya.