Tiada hari yang kita lewati tanpa berpikir. Saya, anda, dan manusia seluruhnya, memang diciptakan dengan kelebihan yang satu ini diantara makhluk lainnya. Otak manusia mungkin saja tak lebih besar dari otak gorilla, namun seonggok daging di kepala kita ini ternyata mampu membawa kita menyusuri alam semesta yang seakan tak berbatas. Dengan sedikit bantuan imajinasi, kita mampu mengendarai sang pikiran menembus setiap dimensi ruang dan waktu.
Namun sering kali ketika kita terlalu girang bermain di alam rasionalitas kita lupa jalan pulang. Jalan untuk kembali ke kampung halaman yang disana ada rumah surgawi yang menanti kita. Rumah yang dikelilingi oleh taman-taman indah tampat berkumpulnya dua hal tersuci di dunia ini: iman dan cinta. Tak jarang kita tersesat tak tahu entah dimana berada. Sebagaimana kini, saat kita tersesat di tengah hiruk pikuk modernisasi. Ketika rasionalisme membunuhi secara kejam bayi-bayi romantika dari rahim fitrah kita, ketika hukum-hukum positif membungkam semua celah dari mana suara nurani bisa terdengar. Kita kebingungan, karena kita tengah terdampar di padang pasir rasionalitas yang tak kunjung menunjukkan kepada kita dimana mata air itu ada.
Ketika anda bertanya kepada sang rasio dan logika tentang Allah. Saya mungkin akan percaya jika mereka mengatakan bahwan Allah itu ada. Tapi, jangan harap mereka akan merendahkan diri untuk bersujud kepada-Nya. Mereka terlalu sombong untuk sebuah penghambaan seutuhnya, bahkan tak jarang mereka berdua memproklamirkan ke-Tuhanan mereka. Hal ini hanya akan terjadi ketika tak ada lagi ruang kosong dalam diri kita tempat dimana perasaan menyirami tamannya.
Tapi, jika taman itu ada dan tumbuh indah bersemi, maka ajaklah anak-anak pikiran kita bermain di sana. Walau kini kita sudah terlalu jauh tersesat. Yakinlah bahwa jalan pulang itu ada dan akan selalu terbuka. Perhatikan jejak tapak yang kita tinggalkan di masa lalu. Telusuri ia hingga akhirnya ia membawa kita pulang. Pulang ke kampung fitrah dimana taman itu berada dan masih saja menunggu kita. Dan ketika kita ciduk air dari sungai ajaibnya yang jernih untuk membasuh wajah keletihan kita, maka sebuah logika baru pun tercipta. Logika yang mengalir bersama arus perasaan. Sebuah logika yang memperdengarkan kepada semesta suara yang menggetarkan wujud, memabukkan jiwa, menyingkap kegelapan rasionalitas, menghentak akal batin kita. Hingga akhirnya kita memperoleh lagi semangat itu. Semangat pengembaraan nurani menuju tepian pantai dimana janji-janji Allah menanti kita.
Ya… Semangat pengembaraan nurani menuju tepian pantai dimana janji-janji Allah menanti kita.
powered by performancing firefox









Kebanyakan kita mengaku-ngaku tengah berlogika bak Ibrahim ‘alaihissalaam. Tapi senyatanya, jejak logika Iblis yang dijadikan penunjuk jalan–logika penuh kesombongan. Wallaahua’lam bishshawab
Pas betul, logika dan rasionalitas akan bertempur di perbatasan. kemakmuran dan kesuksesan dari orang ke orang, dari bangsa ke bangsa, dari abad ke abad membuat manusia terpesona dan meniadakan kehadiranNya. Memahami batas-batas kemampuan rasionalitas dan itu berujung ke sains memaksa otak untuk memilih, apakah manusia harus berhenti di taman logika ataukah meneruskan untuk memilih mentidakkanNya. Pertempuran di taman rasa ini kian membahana ketika segala sesuatu berada di taman akal….
Namanya saja manusia, rasio-nya terbatas…, kemampuan terbatas…udah mau sombong merasa tahu segalanya…klo ga nyadar kemanusiaannya ya repot…
Duh perlu lebih banyak tafakur nich
tapi rasionalitas laki-laki memang harus lebih tinggi dari perasaan
tapi apakah berarti rasio itu lebih penting dibanding perasaan kita?
harus itu…
kalo nggak, bisa bisa kita kayak para tokoh di sinetron en telenovela