Dr. Ugi Suharto lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 27 Februari 1966. Kini ia menjadi dosen di Kulliyyat of Economic di International Islamic University Malaysia (HUM). Ugi, nama panggilan akrabnya, adalah mahasiswa Indonesia pertama yang menyabet gelar “mahasiswa ekonomi terbaik” di IIUM pada tahun 1990. Jenjang S-2 dan S’-3 pun masih bergelut di bidang ekonomi. Mulai tahun 2000, selepas meraih gelar PhD di bidang pemikiran ekonomi Islam, Ugi menjadi dosen di ISTAC sebelum akhirnya ditarik ke kampus HUM. Disertasinya berjudul “Early Discourse on Islamic Public Finance”.
Pada tahun 2001, dia menerima tantangan yang berat dari ISTAC, untuk mengajar mata kuliah “History and Methodology of Hadith”, disamping mata kuliah “History of Islamic Economic Thought”. Mahasiswanya pun tidak main-main. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa tingkat S-2 dan S3 yang sudah belajar “ulumul hadith” dari universitas-universitas di Madinah, Mesir, atau India.
Disamping menguasai bidang ekonomi Islam, Ugi juga dikenal sebagai sosok ilmuwan lintas sektoral. Selain bidang ekonomi, ia menulis sejumlah makalah ilmiah dalam bidang ilmu kalam, tafsir, hermeneutika, hadith, dan sebagainya. “Ulama-ulama kita dulu mampu menguasai berbagai bidang ilmu dengan baik. Mereka multidisipliner,” ujarnya seraya menunjuk pada sosok al-Ghazali, ar-Razi, Ibn Sina, Ibn Taimiyah, dan sebagainya.
Untuk membuka cakrawala yang lebih luas dalam bebagai bidang keilmuan, Dr. Ugi sempat mengambil kursus bahasa Jerman, Perancis, dan Persi, disamping “bahasa wajib” yang dikuasainya, Arab dan Inggris.
Berikut ini wawancara ISLAMIA dengan Dr Ugi Suharto: Download artikel selengkapnya => wawancara-dr-ugi-suharto.pdf









Subhanallah..
Konon beliau lulusan SMAN 8 yg konsisten gak mau sekolah di univ. es e ka u el e er. Eh, tnyata dibukakan jalan utk ke IIUM..
Ada “cara mudah” gak memahami apa itu epistemologi Islam (atau “cara mudah” itu sendiri tdk sesuai dg epistemologi Islam?)…
btw, K-lo gak salah beliau itu punya nama kun-yah… apa yach..?
Maklum Last name-nya dulu rada ngingetin ke seseorang…
Saya belum download artikel wawancanaranya, karena internet lagi lelet. Tapi membaca sekilas judulnya, “Ekonomi Islam Harus Berbasis Epistemologi Islam”…terasa ada yang kurang pas di telinga saya. Tapi yang mana yach yang terasa kurang pas?
Hmmm… Iya juga ya, kalo ngga berbasis epistemologi Islam masa sih ya berani2nya dikatakan sebagai ekonomi islam. Bagian itu bukan mas?
Tapi begitulah yang berkembang. Ketika trend ekonomi Islam terasa hanya mengarah kepada pemenuhan permintaan “pasar” saja.
Alhamdulillah, mungkin masih ingat ….umair