Puisi Duka Andalusi
Mei 25, 2007 oleh ichsanmufti
Andalus, 898 H/1492 M
Sejarah adalah sebuah pendewasaan bagi siapa saja yang menyelaminya. Di dalamnya ada kebahagiaan, masa gemilang dan kenangan manis sebuah peradaban. Namun di dalamnya juga ada keruntuhan dan air mata kepedihan. Berputarnya roda kehidupan membuat wajah dunia berbeda dari masa ke masa. Namun satu hal yang paling berharga, yaitu bagaimana manusia masa lalu mengajarkan kepada kita sesuatu yang luar biasa. Bahwa “manusia tidak pantas untuk terperosok ke dalam lubang yang sama”.
Mereka-manusia-manusia lampau- tentu menyadari bahwa kabar mereka akan terbang melayang jauh. Jauh di kemudian hari. Serentak tentunya dahulu mereka berharap, bilamana terpenggal dan kalah dalam pertempuran maka tetesan darah mereka harus mampu tuliskan ‘surat cinta’ kepada penerus di masa depan. Surat cinta berisikan pesan yang berbunyi “jangan sampai kalian berbuat tolol seperti yang telah kami lakukan!!”. Itulah sejarah. Yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berani berkaca dan belajar banyak dari pengalaman.
Malam ini saya bernostalgia. Nostalgia penuh duka bersama bait-bait sang pujangga. Bait-bait yang bercerita tentang masa di mana seolah singa dikutuk menjadi kucing dan banteng gagah mendadak menjadi seekor domba. Sebuah masa keruntuhan yang ditangisi Abul Baqo’ ar-Rundy bersama segenap umat Islam sedunia sejak dahulu hingga kini; Masa keruntuhan negeri Andalus di tangan pasukan salibiyah.
Sang pujangga (Abul Baqo’ ar-Rundy -601 H-) berteriak mengiba dalam bait-baitnya:
Segala yang beranjak sempurna kan berkurang pada akhirnya
Maka jangan manusia terperdaya oleh indahnya perhiasan dunia
Kau saksikan segalanya bagai roda yang berputar
Bahagia suatu kala dan sengsara selepas itu semua
Sungguh dunia tak ‘kan sisakan suatu apa pun
Tiada kekal di dalamnya satu urusan pun
Mana raja-raja bermahkota dari Yaman?
Mana yang dahulu bermahkota menyilaukan?
Mana pula istana yang dibangun kaum Iram?
Mana benteng Persia yang dibangun siang dan malam?
Ketentuan yang tak tertolak telah menimpa semua itu
Hingga segalanya bagai tak pernah ada
Oh Andalus.. Derita itu kini menimpamu
Gunung Uhud pun roboh dan gunung Sahlan hancur mendengar kisahmu
Islam kini menangis hingga tak sadarkan diri
Bagai tangis kekasih yang ditinggal matiSeketika Islam diusir dari rumah-rumah itu
Diganti kekufuran yang penuhi setiap ruang
Ketika masjid dahulu kini jadi gereja
Tiada lain di dalamnya kecuali salib dan lonceng-lonceng
Mihrab-mihrab itu menangis tersedu padahal ia adalah batu
Mimbar-mimbar itu bersenandung puisi duka padahal ia adalah kayu
Sungguh pahit semua ini meluluhkan segala hati
Seandainya Islam dan Iman masih bersemayam dalam nurani
Lihatlah! Negeri Andalus yang dahulunya adalah pusat peradaban di masa kejayaan Islam seketika itu hancur mengenaskan. Tak lain dan tak bukan; Akibat dari keteledoran umat ini sendiri. Ketika keimanan kian menipis, kebodohan terpelihara, hawa nafsu naiki singgasana. Tak bisa kita tunggu waktu untuk merubah semua kehinaan ini.
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d : 11)










ka ini abdul azis
ka begitu banyak allah memberi
segenap kasih sayang kepada muslim yang taat
ka abdul minta ajarin lagi yah ^_^
karya ka bagus >:**:
muantabb puisinya
kisah yang menjadi pelajaran kita semuanya… “cordova” yang tak lagi seperti masa kejayaannya
Kadangkala Allah hilangkan sekejap matahari…..
Kemudian Dia datangkan pula guruh dan kilat…….
Puas kita menangis mencari d manakah matahari……
Rupanya Allah ingin hadiahkan kita..PELANGI……..
Kesulitan tuh justru tantangan
Klo asyik-asyik aja, gak bakal dapat predikat “special” dong
semua orang juga bisa
hingga akhirnya jadi biasa
hidup terlalu membosankan kalau cuma sekedar jadi “biasa”
cuma sekali loh diberi kesempatan
makenye Dia yang Maha Tahu Yang terbaik suka gonta-ganti formasi n skenario
kadang kita jadi penyerang kadang bertahan, kadang menang kadang kalah
terserah Dia, soalnya satu-satunya yang tahu mana yang terbaik sih
Asssalamu’alaikum
kaifa hal, puisinya jos keren. ajarin dong buat puisi bisa ga. sukran
Bagus banget..
cordova kota tua yang pernah menjadi kejayaan Islam. Kini sendiri ditengah-tengah kota tua lainnya, menunggu untuk bangkit berdiri dikancah keagungan Islam..
wowww..canggehhh
semuanya adalah pilihan yang Kuasa…
karena dari awal kita di hadapi dengan pilihan, mengambil pilihan atau mengabaikanya.
intinya:
kejayaan adalah sekumpulan dari pilihan…
Ihsan, saya ikut nyumbang syair dari diwan asy-Syafii yang kamu mempunyai bukunya.
Sebagai andil, karena cinta pada syair-syair arabic.
دع الأيام تفعل ما تشاء
وطب نفسا إذا حكم القضاء
وكن رجلا على الأهوال جلدا
وشيمتك السماحة والوفاء
وإن كثرت عيوبك في البرايا
وسرك أن يكون لها غطاء
تستر بالسخاء فكل عيب
يغطيه كما قيل السخاء
Biarkanlah hari-hari berbuat apa saja sesukanya
Dan lapangkanlah jiwamu jika takdir telah diputuskan
Janganlah engkau berkeluh kesah dalam menghadapi musibah
Karena tidak ada suatu musibah yang kekal di dunia ini
Jadilah engkau seorang yang tabah dalam menghadapi musibah
Perangaimu pemaaf dan tepat janji
Jika engkau mempunyai banyak aib dihadapan manusia, dan Engkau tahu rahasia dirimu adalah penutupnya
Tutuplah aibmu dengan kedermawanan
Karena kedermawanan adalah penutup segala aib
Surabaya 9 sept 07/27 syaban 1428
makasih…………
website yang bermanfaat buat ana…karena ana juga jurusan asia barat…he he …dicopy ga papakan mas…..
makasih…moga kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla selalu menyertai mas…wassalamu’alaikum
السلام عليكم ورحمته وبركاته
يسعدني ان التقي اخوة من جميع الاقطار يجمعهم حب الاسلام والذود عنه ولو بكلمه اسال الله ان يوفقكم في الدارين
مكه المكرمه