DARAH!!!
Juni 21, 2007 oleh ichsanmufti
Den… Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelahnya dengan transfusi.
Saya mencoba menebak sebagai apa ia berada di sana. Tampak sedang sungguh-sungguh berdiskusi jarak agak jauh dengan dua orang mahasiswi berjilbab panjang yang baru datang membawa selembar kertas bergambar. Saya tak tahu apa isinya. Yang jelas mereka sedang membicarakan sebuah kegiatan sosial. Persisnya saya pun tak tahu, walau ingin sebenarnya. Tak lama setelah itu saya dihampirinya dan jadi tahu bahwa ia adalah seorang relawan.
Kami bertemu di sebuah sudut R.S.Sardjito tepatnya di ruang Unit Tranfusi Darah. Ruangan itu dingin, serba putih, penuh keramahan walau kamar kecilnya terkunci di balik sebuah gorden hijau yang sedikit tersibak. Kursi tunggu fiberglass berjejer di kedua sisi ruangan itu. Membiarkan “orang-orang yang cemas” mendudukinya.
Ia memang tak menyebut diri “Relawan”. Ia tak menyebut diri “Orang yang mau bersusah demi nyawa orang lain”. Ia tak menyebut diri “Seorang yang ikhlas”, atau apa pun yang lain. Ia tentu tak akan mengaku setinggi itu. Namun untuk yang pertama saya sudah dahulu tahu ia adalah itu, dan untuk selebihnya saya berfirasat ia sesuai. Dan satu lagi yang saya ketahui; Umam dia punya nama.
Kata “relawan” itu identik dengan bencana, musibah atau kesusahan, dan memang tepat, karena mereka adalah “yang rela” masuk ke dalamnya setelah sebelumnya berada pada zona yang nyaman. Namun dari manakah mereka datang? Apakah yang membuat mereka hadir di tengah suasana yang mencekam? Untuk pertanyaan pertama jawabnya adalah penjuru sedang yang kedua adalah “Hati”.
Ya, hati yang terhenyuh karena sebuah duka yang minta diobati.
Dan semoga itulah yang menghantarkan saya dan beberapa rekan lainnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang dingin, putih, diam, sunyi dan tak terlalu bahagia. Sebuah ruangan di mana kami akan memberikan 350cc darah segar yang bersusah payah dihasilkan oleh tubuh kurus kami kepada seorang bocah 14 tahun.
Deni namanya. Leukimia penyakitnya. Dan ketika saya bertanya “berapa bulan sekali transfusi?”. Seorang ibu yang beraktivitas seperti drakula itu berkata: “tak sampai selama itu. Deni punya rumah kedua, disini”. Dan golongan darah AB ternyata sangat sulit dicari.
Saya sendiri awalnya agak gentar setelah tak mendonorkan darah empat tahun terakhir ini. Namun ternyata kenyataan terlalu ringan dibandingkan bayangan. Hanya bagai digigit serangga kemudian “cyurr” darah saya mengalir ke dalam sebuah kantong plastik. Namun ternyata vena saya kecil sehingga harus sedikit bersabar sebelum 350cc itu selesai.
Sejak awal hingga akhir saya perhatikan benar prosesi berdarah itu. Dan alhamdullillah saya cukup menikmati semuanya. Kenikmatan karena telah mencoba membuat orang lain bahagia -Semoga Allah menerimanya-. Kenikmatan yang tentu tak sama dengan kenikmatan yang akan dirasakan Deni, walau hanya untuk sesaat, namun saya berharap darah saya ini berarti.
Den… Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelah dengan transfusi.
Dan setelah itu saya diberi segelas susu dan sepapan “sakatonik LIVER” yang masih sempat membuat hati saya gerimis sebelum pergi meninggalkan ruangan putih itu, sebelum bersalam pamit dengan mas Umam yang ternyata masih mencari darah empat orang lagi untuk Deni.
Gerimis hati saya karena di balik kemasan penambah darah itu saya membaca sepenggal makna:
Para donor darah yang terhormat,
Hari ini Saudara telah menyumbang darah, sebagian dari milik Saudara yang berharga. Mereka yang tertolong dengan sumbangan darah tersebut, bahkan yang diselamatkan jiwanya tak dapat berterima kasih secara langsung, tapi Tuhan Maha Tahu, semoga amal baik Saudara dibalas-Nya. Kami harapkan Saudara untuk menjadi donor secara teratur dan ajaklah keluarga, teman atau siapapun menjadi donor darah sukarela.
Dan beberapa waktu setelah itu datang seorang Abang dengan badan yang tegap. Ia mengisi formulir, mempersiapkan diri untuk diambil darahnya sambil membiarkan wajah cerahnya menghiasi ruang. Dan satu lagi yang membuat saya kagum: ternyata ia lakukan itu setiap tiga bulan sekali, rutin. Subhanallah
Saya ingin akhiri tulisan ini dengan sebuah doa buat Deni dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari:
اللهما رب الناس. أذهب البأس و اشف أنت الشافي. لا شفاء إلا شفاؤك, شفاء لا يغادر سقما
“Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit tersebut dan sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikit pun penyakit lagi”
Amin.








hmmm tulisan yang sama tentang darah tapi kalau ini sangat menyentuh. Saya jadi pengen donor darah kaya laki2 yang tegak tadi… tapi dua kali saya mau donor… ditolak terus mas Mufti…
kadang miris memang kita, baru melihat kenyataan baru sadar….
Cerita sungguh sangat menggugah
bang, terenyuh euy baca tulisan abang…
saia sendiri tdk bisa donor darah saia
berat badan saia agak jauh dari normal
lagipula, biasalah wanita : hipotensi
sebenernya, pengen juga nyumbang darah…
tapi , sepertinya ada hal lain yang masih bisa dilakukan….
kemarin, waktu di sma sy juga pernah gabung sama organisasi palang merah …
dulu pikiran saya sempit sekali … ih mau-maunya ya donorin darah, udah kerempeng kayak gitu …
ngga takut apa ntar ada kuman masuk de es be. terus saya dapet bagian bikin bubur kacang hijau. emang penginnya bikin masakan … he he
soalnya bisa dimakan …
nah, habis itu kita bagi-bagiin ke relawannya …
suddenly, saya nangis … kenapa saya punya pikiran sempit kayak gitu c” ngga dewasa banget.
sebagai gantinya saya bagiin kacang ijo itu sambil tersenyum sama tiap orang relawan yang pulang.
sampe temen2 pada mikir yang ngga2 sama saya “kenapa c khansa tu, td bawaannya cemberut skrg senyumnya kok ngga ada habisnya” terus saya bilang sama temen saya itu.|”
bikin muka q jdi cerah kan’ hehe
terus temen saya ketawa … “cerahnya cuma bentar doang kali, sekarang udah ngeblack lagi tuh!”
begitulah …
relawan2 met bejuang ya
relawan dakwah
relawan darah
relawan spontan
Allah gantiin sama yang lebih besar lho
he he
….hhhhhmmmmmm……jadi ingat semua yang pernah terlintas dalam hidup saya….saat melihat semua yang mengiris jiwa…aceh,jogja,jakarta,RS mardirahayu KUDUS,dan rumah…..,buat semua teman saya slamat berjuang d tempat kamu sekarang berada……..
sayang, punya saya “cuma” O. padahal sarjito itu di belakang kampus saya
Subhanalloh…ana bener2 terharu…Sungguh kenikmatan tersendiri memang..kalo kita sudah berbuat sesuatu untuk kebahagiaan orang lain. Ichsan…ana juga sebenarnya pengeeen banget bisa menyumbang darah…mungkin sama kayak si kurt diatas. Setiap kalil ana mau donor…pasti ditolak..hiks..kadang ngiri juga sama temen2 yang bisa mendonorkan darahnya untuk keselamatan dan kebahagiaan oranglain. Apalagi…sampai jadi donor rutin..wah…suatu kenikmatan tersendiri tuh…OK deh..mungkin bagi yg ditolak terus untuk jadi pendonor…jangan berkecil hati …masih banyak kebaikan yg bisa kita lakukan untuk kemashlahatan, untuk kebahagiaan orang lain. Dan tentunya ikhlas karna Allah Ta’ala. AMin. Bagi para relawan..ana ucapin..selamat berjuang..Allah akan menggantinya dengan pahala yang berlipat ganda. AMin
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Tiada Waktu yang tersia-sia Kecuali Hanya untuk Allah SWT..Maka Teruslah berbuat kebaikan dan kemanfaatan. OK deh..udah puanjang banget …’Afwan kalo banyak salah, maklum ana hanyalah hamba yang fakir yang mencoba mengingatkan..khusunya untuk diri sendiri…
Jazakallah Khoir …’Afwan
Gerimis hati saya karena di balik kemasan penambah darah itu saya membaca sepenggal makna:
Para donor darah yang terhormat,
Hari ini Saudara telah menyumbang darah, sebagian dari milik Saudara yang berharga. Mereka yang tertolong dengan sumbangan darah tersebut, bahkan yang diselamatkan jiwanya tak dapat berterima kasih secara langsung, tapi Tuhan Maha Tahu, semoga amal baik Saudara dibalas-Nya. Kami harapkan Saudara untuk menjadi donor secara teratur dan ajaklah keluarga, teman atau siapapun menjadi donor darah sukarela.”
terus terang saya belum pernah donor darah. bukan ndak mau tapi timbangan badan saya kata mereka tidak memenuhi syarat. akhirnya selamatlah buat anda-anda yang memberikan kehidupan pada orang lain.
[...] c. Darah!!! [...]
@All
Semoga Allah memberkati Anda sekalian
[...] 2007: Menjadi Penulis Ada Kecenderungan Bunuh Diri Top Indonesian Empatic Post May-June 2007: Darah!!! Top Indonesian Tolerant Post May-June 2007: Bushido = Jihad ??? Top Indonesian Unique Post [...]
numpang lewat, duh gimana ya…saya mah takut banget
saya belum pernah donor, moga2 diberi kesempatan buat ngedonor….ada yg mau?
wah,, ka ican tulisan na bagus….
jadi pengen mendonorkan…
klo ada info yg memebutuhkan darah AB mungkin bisa call me…semoga bisa bermanfaat unutk semua na…
amin…..
Pengalaman yang sangat menegangkan, membutuhkan motivasi untuk melangkahkan kaki ke tempat Donor Darah yang sangat besar/beralasan, “Sukarela” mmg tepat untuk menyiratkan apa yang kita lakukan, ada yang bilang tangannya keringetan, dingin, nervous, dan bahkan ada yang pingsan segala. tapi setelah dicoba…. mau lagi dong!!!
Sempat terbersit dalam pikiran, betapa banyak saudara2 kita yang membutuhkan bantuan kita…
bahkan banyak info kesehatan yang katanya ; Donor Darah untuk kesehatan.
So jangan ragu2 berbuat “sesuatu” yang baik…
Terima kasih
minta ijin untuk make kata”nya sebagai sarana sosialisasi donor darah, ya…..
terima kasih sebelumnya
InsyaAllah…walopun ga bisa berbagi dengan mendonorkan sedikit darah kita kpd orang lain, sepenggal doa utk mereka yg membutuhkan juga berguna…
utk semua relawan yg berjuang di jalan Allah…tetap jaga semangat…haruman syurga kan selalu menanti kalian semuanya…