Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.
Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.
Lantas, apakah itu semua mampu buat kita tambah baik jadinya?! Tidak… Kar’na kesalahan tetaplah kesalahan sebelum ia diperbaiki atau dihapuskan, kekeliruan tetaplah kekeliruan sebelum ia dikoreksi, dan dosa tetaplah dosa sebelum ia ditaubati.
Maka benar juga kata orang-orang itu. “Lebih baik jadi mantan preman daripada mantan ustadz”. Apa sebabnya?!. Karena mantan preman -yang mungkin telah menjadi ustadz kini- adalah ia yang menertawai masa lalunya yang bodoh dan lucu sehingga akhirnya ia paham apa sejatinya makna hidup dan kehidupan. Sedangkan mantan “ustadz-ustadzan” -yang mungkin telah menjadi pendosa kini- adalah ia yang menjadi picik karena tak pernah mau berdialog dengan nuraninya sen..diri. Ke-ustadzan-nya dahulu hanyalah simbol yang dangkal, tanpa pernah ia coba membumikannya dalam kesadaran hidupnya. Lihatlah ia terperosok jauh sekali. Tapi kita berdoa, mudah-mudahan sebelum mati ia dapat “kembali”.
Tuan dan Puan sekalian yang saya sayangi. Beberapa waktu lalu Anda mungkin saja bertemu kembali dengan sahabat lama anda. Anggap saja namanya Budi. Dahulunya Anda anggap Budi adalah sampah bagi manusia. Kebiasaannya tak lain hanyalah bernafas -seringkali dengan “bantuan” asap rokok-, makan, tidur, menghabiskan harta orang tua, selalu mengucap “malas” untuk suatu yang bermanfaat dan tak berminat kecuali dalam urusan syahwat. Anda pernah menduga bahwa ia akan terus menghabiskan waktunya menuju ajal dengan selalu menyusahkan manusia di sekelilingnya.
Namun ternyata Anda terkaget-kaget tak menentu ketika pertemuan kembali itu. Apa yang terjadi?! Budi berubah kini. Hidupnya lebih cerah dari Anda. Bukan hanya masalah materi, tapi secara spiritual ia begitu hebat kini. Disaat Anda merasakan sempitnya hati karena jiwa yang kian kering gulita, ia datang memberikan Anda nasihat yang sejuk bagaikan embun di pagi hari. Disaat Anda galau dan bimbang bertanya-tanya maksud sebenarnya hidup dan kehidupan ini, ia datang dengan berbagai penjelasan yang membuat hati anda tenteram benderang. Awalnya Anda mungkin menolak, karena Anda merasa masa lalu Anda lebih baik darinya. Namun Anda lupa, bahwa Anda jarang sekali berintrospeksi, bahwa Anda tak pernah belajar dari kesalahan. Anda tersungkur. Dan harapan saya di masa depan Anda akan menertawai sikap Anda ini.
Sedangkan si Budi itu adalah pembelajar sejati, yang tak pernah ingin melewatkan sekecil apa pun kesalahan dalam hidupnya di masa lalu untuk dinobatkan menjadi guru dalam perjalanannya menuju masa depan. Tentu ada titik balik dalam hidupnya yang membuat menyadari kesalahannya dan menjadikannya begitu berbeda kini. Mungkin ia tersentak sadar ketika ayahnya meninggal dunia, atau ibunya, atau selepas kecelakaan, atau juga sehabis bencana yang menimpa dirinya, atau karena tak sengaja duduk mendengar kajian ketika maksud hati berlari pagi melintasi masjid kampus UGM hari minggu pagi, atau juga ketika ia membaca tulisan yang menggugah hati. Hmmm, memang setiap orang punya cara yang berbeda-beda ketika menyongsong hidayah. Semoga Anda mengalaminya sebaik dan sesegera mungkin.
Intinya yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini adalah; Ambillah pelajaran dari setiap kesalahan yang Anda lakukan, dan berjanjilah bahwa Anda tak akan mengulangi kesalahan tersebut. Toh setiap manusia pernah salah, pernah terjatuh dalam dosa dan maksiat. Namun yang terpenting dalam perspektif Islam adalah sejauh mana seorang itu memiliki semangat untuk berintrospeksi dan bertaubat secara konstan. Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah seorang dapat mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal bagi kelanjutan langkah-lagkahnya menuju kehidupan yang berjaya dunia dan akhirat.
Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah seorang dapat mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal bagi kelanjutan langkah-lagkahnya menuju kehidupan yang berjaya dunia dan akhirat.
* Tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang teman lama yang secara mengejutkan menemukan saya di dunia maya. Kami telah sangat lama berpisah. Dahulu saya sangat murah nasehat kepadanya. Namun kali ini justru ia yang telah hadir kembali dalam kehidupan saya dengan berbagai motivasi hidup, bermacam nasehat serta aneka renungan. Terima kasih Akh









MasyaAllah bang.. Keuueeeeennn !!!
Syabas, tulisan yang meyentuh dan membuka minda. Oleh itu perlu ada keterbukaan diri, jangan dibentengi. Pelajaran yang dapat diteladani. Jika yangka kita sudah tahu dan disitu perhentian-nya. Nahas akibatnya, kerana disaat itu juga kitalah sesaorang hamba Allah yang paling bodoh. Setiap ilmu yang ikhlas untuk dialiri akan terhenti, kerana ada pantulan dari diri ngak mahu akui…itulah egois namanya
Mohd Osman
Tampines
Singapore
……………..tadi malam aq bahagia,sahabat yang selalu memberikan nasehat dan petuah bijak kembali dengan segala keindahan hatinya setelah beberapa waktu tidak berkomunikasi karena sebuah kesalahan juga kebodohan yang pernah aq lakukan……….,dia kembali tanpa amarah,benci,juga dendam..,dia datang oleh cinta akan sebuah persahabatan dan persaudaraan dalam naungan Allah SWT…….,trimakasih….
saya suka kalimat ini
TAUBAT = Continuos IMPROVEMENT and Improvement begins with ‘I’
Insya Allah, suatu saat saya akan quote kalimat ini di blog saya…
Alhamdulillah…..,terharu bacanya akh,jd ingat dgn pengalaman diri sndri,gmn lika liku mendptkan sahabat yg bnr2 tulus,yg jujur,mencintai kita krna Allah….,besakit2 dahulu,luka2 dulu,nyasar2 dlu tp Alhamdulillah dibalik itu semua byk sekali hikmah yg bs dipetik,yg membuat kita menjadi semakin sadar, semakin mengerti dan mau berusaha utk mencari,mendkti dan menjemput jln2 yg diridhoi oleh Allah shg taufik itu pun scra tdk lsg menghampiri kita yg dampaknya akan mengarahkan kita kpd hidup yg lbh baik lagi dr sebelum2nya,khususnya dlm mslh ketakwaan, dgn rahmat dan kasih sayang-Nya,Allah tdk sungkan2 menghadirkan,menganugerahkan utk kita sobat yg indah,yg menyejukkan ht kita ( diatas dlm urusan akhirat dan dibawah dlm urusan dunia). Moga Allah mempertemukan kita kembali dlm ketakwaan yg lebih,Insya Allah Ta’ala,amin…..
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali ‘Imran:
Assalaamu’alaikum..
Tulisannya bagus dan menyentuh sekali..saya minta ijin untuk meng-copy tulisan ini di Blog saya ya..Jazaakallahu khair. Barakallahu fiikum.
Hmm….Sepakat aja deh..sama pak ustadz…
Setiap Kejadian pasti ada hikmahnya. Karna Segala sesuatu hanya bisa terjadi atas kehendak dan Ijin Allah. Hasbunalloh Wani’mal Wakil Ni’mal Maula wa ni’mannashir.
Jadikan waktu, tenaga kita penting hanya karna Allah. Dan Moga Kita menjadi orang yang beruntung dengan menjadikan hari kita semakin baik dari hari ke hari. Amin…Sehingga kita tidak terus-terusan menertawakan masa lalu kita mungkin…tapi juga bisa tersenyum untuk masalalu kita…OK?!
Maaf bila ada yg kurang berkenan
Salam dari Banjarmasin
Memang semuanya itu benar seperti apa yang kurasakan juga, pengalaman adalah guru yang terbaik tidak dapat kita sangkal lagi memang pengalaman lah yang membuat kita seperti apa dan gimana asalkan kita menghadapinya dengan bijak dan dari segi positifnya bukan dari segi negatifnya andaikata hanya mengambil negatifnya maka kita tidak akan berhenti untuk berbuat dan berbuat lagi.
Masa lalu tidak bisa kita pungkiri adanya tapi bukan untuk disesali tapi hanya untuk dikenang dan untuk diambil pelajaran darinya.
Kita bukan hidup di masa lalu tapi tidak mungkin ada hari ini kalau tidak ada masa lalu, memang kita harus banyak- banyak membaca dan memahami surat alkautsar.
Salam
Abu dhabi United arab Emirate
trima kasih pak
tankkuuuuuuu…….
Ya aq haraus banyak introspeksi diri………..
keep on rockin’…. it’s another soulbuilder for me.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ada bagian bagian tertentu dari masa laluku yang sebenarnya tidak ingin ku kenang. Tetapi, justru selalu saja muncul dalam ingatanku. Makin aku ingin melupakannya, makin dia muncul.
Jika harga dirimu telah dinjak injak, dan kau tetap bertahan demi sebuah cita cita dan “for the sake of a family” kata orang Inggris, apakah Anda masih bisa mentertawakannya? Saya kok belum bisa, karena belakangan ini saya pikir, membiarkan harga diri terinjak injak adalah dosa. Jadi saya rugi 2 kali. Saya telah berkorban sedemikian besar dan untuk itu saya menanggung dosa!
Mungkinkah saya mentertawakannya? Apakah ini tidak menambah dosa lagi?
Terima kasih