Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘nasehat hati’ Category

Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.

Tuan dan Puan sekalian tentu mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau cobaan hidup datang silih berganti. Ada juga yang rapuh, mudah roboh, bagai pohon kayu yang tumbang walau terhembus angin sedikit saja. Ada yang mampu kalahkan keadaan, sebaliknya, ada juga yang mudah menyerah, cengeng, tak punya semangat juang.

Lau laa al-masyaqqoh lasaada an-naas kulluhu

“Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”

(lebih…)

Read Full Post »

syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg

Darussalam 22.00 WIB

Hanya sebuah rekam jejak kehidupan. Saya berharap banyak memperoleh kuliah tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih bijak meniti hidup…

Di sini…
Di Banda Aceh…
Aku mencium aroma angin kesedihan masa lalu yang pilu
Namun perlahan dia hilang
Berganti dengan semerbak semangat masa depan yang membara

Wassalam

 

Ichsan Mufti

Read Full Post »

Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.

Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin tak kurang suatu apa. Padahal Anda juga pernah mendengar sahabat Anda lainnya yang tampan itu – si ‘Allan- ingin bisa hidup nyaman seperti si Fulan. “Duh alangkah bersyukurnya aku jika bisa hidup enak seperti si Fulan itu. Mau apa juga tinggal beli”. Katanya.

Dalam hati Anda mungkin mendumel: “Duh… Kalian ini kenapa?! Tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan kepada kalian. Lihat diriku! Sudah jelek, ga ada yang mau, miskin pula. :(  (lebih…)

Read Full Post »

Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia “menangis kenapa?”. Ia menjawab”tangis haru mengingat cinta kasih ibunda padaku. Setelah melihat seorang ibu yang memeluk anaknya di taman itu aku rindu ibu, rindu kasih sayangnya, rindu nasehat-nasehatnya”. Dan Azan maghrib pun mengalun sendu bersama ketakjubanku terhadap lembut hatinya. (lebih…)

Read Full Post »

Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.

(lebih…)

Read Full Post »

 

Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi…… Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar.

Itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum si “yang berjiwa kerdil”. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya.

Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun si “yang berjiwa kerdil” ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. (lebih…)

Read Full Post »

Tak ada pendiam yang tak tinggalkan misteri. Ketika ia berdiri atau duduk dalam diam, orang tak mudah tebak apa yang sebenarnya ia simpan. Sesekali ia berbicara namun tetap kata-kata yang terbatas itu tak mampu jawab tanya manusia tentang siapa dirinya.

Saya baru berkenalan dengan seorang pendiam. Seperti yang sudah-sudah, ketika berkenalan dengan para pendiam saya selalu lebih berhati-hati dalam produksi kata. Walaupun tidak mendadak saya ikut jadi pendiam sepertinya. Hanya lebih bersahaja. Saya harus selalu mempelajari siapa lawan bicara saya. Ini penting. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.