Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘nasehat hati’ Kategori

Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.

Tuan dan Puan sekalian tentu mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau cobaan hidup datang silih berganti. Ada juga yang rapuh, mudah roboh, bagai pohon kayu yang tumbang walau terhembus angin sedikit saja. Ada yang mampu kalahkan keadaan, sebaliknya, ada juga yang mudah menyerah, cengeng, tak punya semangat juang.

Lau laa al-masyaqqoh lasaada an-naas kulluhu

“Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”

(lebih…)

Read Full Post »

Banda Aceh 14 Februari

syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg

Darussalam 22.00 WIB

Hanya sebuah rekam jejak kehidupan. Saya berharap banyak memperoleh kuliah tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih bijak meniti hidup…

Di sini…
Di Banda Aceh…
Aku mencium aroma angin kesedihan masa lalu yang pilu
Namun perlahan dia hilang
Berganti dengan semerbak semangat masa depan yang membara

Wassalam

 

Ichsan Mufti

Read Full Post »

Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.

Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin tak kurang suatu apa. Padahal Anda juga pernah mendengar sahabat Anda lainnya yang tampan itu – si ‘Allan- ingin bisa hidup nyaman seperti si Fulan. “Duh alangkah bersyukurnya aku jika bisa hidup enak seperti si Fulan itu. Mau apa juga tinggal beli”. Katanya.

Dalam hati Anda mungkin mendumel: “Duh… Kalian ini kenapa?! Tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan kepada kalian. Lihat diriku! Sudah jelek, ga ada yang mau, miskin pula. :(  (lebih…)

Read Full Post »

Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia “menangis kenapa?”. Ia menjawab”tangis haru mengingat cinta kasih ibunda padaku. Setelah melihat seorang ibu yang memeluk anaknya di taman itu aku rindu ibu, rindu kasih sayangnya, rindu nasehat-nasehatnya”. Dan Azan maghrib pun mengalun sendu bersama ketakjubanku terhadap lembut hatinya. (lebih…)

Read Full Post »

Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.

(lebih…)

Read Full Post »

 

Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi…… Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar.

Itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum si “yang berjiwa kerdil”. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya.

Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun si “yang berjiwa kerdil” ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. (lebih…)

Read Full Post »

Tak ada pendiam yang tak tinggalkan misteri. Ketika ia berdiri atau duduk dalam diam, orang tak mudah tebak apa yang sebenarnya ia simpan. Sesekali ia berbicara namun tetap kata-kata yang terbatas itu tak mampu jawab tanya manusia tentang siapa dirinya.

Saya baru berkenalan dengan seorang pendiam. Seperti yang sudah-sudah, ketika berkenalan dengan para pendiam saya selalu lebih berhati-hati dalam produksi kata. Walaupun tidak mendadak saya ikut jadi pendiam sepertinya. Hanya lebih bersahaja. Saya harus selalu mempelajari siapa lawan bicara saya. Ini penting. (lebih…)

Read Full Post »

Saya menuliskan ini di sebuah malam, dan saya mendengar suara jangkrik krik-krik-krik di luar jendela. Mungkin ia hinggap di salah satu dahan pohon jambu tetangga, mungkin di pagar rumah belakang yang bertuliskan “for sale”, atau mungkin ia sedang berbaris bersama rekannya, karena baginya sekarang adalah saatnya bekerja. Sayup-sayup suara teman yang menzohirkan bacaan kitab arab gundulnya terdengar, saya resapi, ia mengalir bersama bagian awal tulisan ini. Sesekali sepeda motor dengan beragam suara yang keluar dari resonansi knalpot yang berbeda terdengar melintasi jalan pogung raya ini. Sangat jarang.

Kini saya dengar suara kipas angin kecil yang saya beli beberapa bulan lalu ketika jogja benar-benar panas memeras tubuh ‘tuk diambil peluhnya. Dari tadi sebenarnya suara itu sudah ada. Tapi begitulah saya dan mungkin kebanyakan manusia; sering melupakan hal yang sebenarnya dekat bahkan menyatu dengan kehidupan. Bergerak kipas itu ke kiri dan ke kanan bersama parfum yang tergantung mengikuti irama.

Beberapa saat sebelum tidur, saya rasakan betapa indahnya Yogyakarta. (lebih…)

Read Full Post »

Mendadak dunia jadi sunyi. Rekaman nostalgia kehidupan kita mulai memantulkan gambarnya tepat ke tembok perenungan didepan kita. Seharusnya tembok itu putih bersih, tapi apa dikata, guratan-guratan noda telah membuat gambar terlihat sedikit buram tidak seperti yang seharusnya.

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang mengiba. Jujur kar’na tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan hati enggan tuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli. Ketika salah satu dari kita mati.

(lebih…)

Read Full Post »

Sebuah refleksi diri sendiri : )

Pagi tadi iseng buka-buka buku lama. Tak sengaja tiba-tiba mata tertuju pada beberapa bait kata yang dahulu biasa-biasa saja bagi saya. Begini kira-kira terjemahannya:

Ingatlah…
sesungguhnya kini lembah kedukaan
telah berubah tanahnya menjadi harum bak kesturi
dan pohon keringnya menjadi kayu cendana yang harum mewangi

Itu tiada lain karena suatu petang
Hindun telah berjalan melaluinya
dan menebarkan butiran salju
yang menyejukkan setiap penjuru lembah itu

Syair indah di atas sungguh membuat saya kembali merenung, tentang makna di balik keberadaan diri saya di dunia ini; (lebih…)

Read Full Post »

Pagi tadi siapa yang sangka bahwa saya harus pulang dari sebuah acara bincang bisnis bersama praktisi ekonomi syariah yang diselenggarakan di Masjid Syuhada Jogja dengan bertelanjang kaki. Kehilangan sandal di masjid..Mungkin hal ini hanya masalah sepele, namun jika dihayati lebih jauh maka kita dapat mengambil begitu banyak pelajaran darinya.

Kebanyakan dari kita mungkin sering mengalami hal yang serupa, yaitu kehilangan benda yang kita sukai, entah karena dicuri, dirampok, tertinggal disuatu tempat dan sebagainya. Saya sendiri sudah beberapa kali mengalaminya. Mulai dari kehilangan HP sebanyak 4 kali, (lebih…)

Read Full Post »

Tampak kasat mata di sekitar kita, jiwa-jiwa yang kebingungan, mata membeku, hati mengeras dan membatu, perasaan menjadi tumpul, kepekaan hilang dan pikiran tercabik-cabik. Tidak ada rasa aman, damai, kasih sayang dan ketenteraman. Setiap orang berkata dengan lidahnya atau perbuatannya , “peduli amat dengan orang lain.” Jadilah mereka orang yang menghabiskan hari-harinya untuk kesenangan, harta, pekerjaan, anak dan hiburan. Sementara Islam terasa asing bagi mereka . Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada tali agama Allah mereka pandang sebelah mata. (lebih…)

Read Full Post »

Tamparan keras para salaf untuk kita

Hati kita memang perlu sekali-sekali ditampar oleh nasehat yang pedas, agar ia tak lagi membatu. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita menjalani kehidupan ini hanya bagaikan robot yang tersenyum dalam kegersangan jiwa. Sungguh itu adalah suatu kehidupan yang menyiksa, sehingga kita perlu cari cara untuk melarikan diri dari penjara itu.

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya persembahkan kepada diri saya pribadi dan kepada saudara/i ku sekalian beberapa nasehat yang luar biasa dari para salaf kita yang sholih : -selamat merenungi diri-

Ketika engaku berbuat maksiat, padahal kau yakin bahwa Allah melihatmu, berarti kau telah berani terhadap Dzat Yang Maha Agung. Karena bodoh, engkau mengira Dia lalai darimu”

“Berhati-hatilah! Jangan sampai engkau mengangap Allah paling remeh dari semua yang bisa memantau dirimu”

Kami sering melihat orang yang mencari Akhirat, lalu dunia pun mereka dapatkan. Tetapi kami tidak pernah melihat seorang pun yang mencari dunia, kemudian ia juga mendapatkan akhirat. (Al-Hasan Al-Bashri) (lebih…)

Read Full Post »

Emang Blogger Bisa Ikhlas??!

Diary Narsis.. Begitulah sebagian orang menjuluki Blog sebagai sebuah media tempat seorang menumpahkan apa yang dirasakannya dalam bentuk tulisan yang kemudian dapat dibaca oleh siapa saja yang mengakses alamat miliknya. Sebagai sarana elektronik, blog memang bagaikan pedang bermata dua. Ia akan bernilai positif apabila digunakan untuk hal-hal positif, namun tak jarang orang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang merusak.  (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.