<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ichsan Mufti</title>
	<atom:link href="http://ichsanmufti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ichsanmufti.wordpress.com</link>
	<description>Semoga mencerahkan, itu saja.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Apr 2009 18:09:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='ichsanmufti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4589709b68fcc3a6a96f5f8d9142e899?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ichsan Mufti</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>InsyaAllah Sebentar Lagi Saya Menikah</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/12/27/insyaallah-sebentar-lagi-saya-menikah/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/12/27/insyaallah-sebentar-lagi-saya-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 12:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan segala kerendahan hati insyaAllah kami akan melangsungkan akad nikah pada hari minggu/04 Januari 2009, di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada pukul 9.20 WIB
Mohon doa restu &#38;/ kehadiran Tuan dan Puan sekalian..
Jazakumullahu Khairan Katsiran
Ichsan Mufti
Meutia Atika Faradilla,S.Ked

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=183&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</em></p>
<p>Dengan segala kerendahan hati insyaAllah kami akan melangsungkan akad nikah pada hari minggu/04 Januari 2009, di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada pukul 9.20 WIB</p>
<p>Mohon doa restu &amp;/ kehadiran Tuan dan Puan sekalian..</p>
<p><em>Jazakumullahu Khairan Katsiran</em><br />
Ichsan Mufti<br />
Meutia Atika Faradilla,S.Ked</p>
<div id="attachment_184" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-184" title="risalah-nikah-1" src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/12/risalah-nikah-1.jpg?w=500&#038;h=318" alt="Risalah Nikah 1" width="500" height="318" /><p class="wp-caption-text">Risalah Nikah 1</p></div>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-185" title="risalah-nikah-2" src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/12/risalah-nikah-2.jpg?w=500&#038;h=318" alt="risalah-nikah-2" width="500" height="318" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=183&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/12/27/insyaallah-sebentar-lagi-saya-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/12/risalah-nikah-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">risalah-nikah-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/12/risalah-nikah-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">risalah-nikah-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERJUANGLAH, JANGAN PERNAH LELAH !! *</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/04/16/berjuanglah-jangan-pernah-lelah/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/04/16/berjuanglah-jangan-pernah-lelah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 09:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/04/16/berjuanglah-jangan-pernah-lelah/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.
Tuan dan Puan sekalian  tentu  mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=182&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p>Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.</p></blockquote>
<p>Tuan dan Puan sekalian  tentu  mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau cobaan hidup datang silih berganti. Ada juga yang rapuh, mudah roboh, bagai pohon kayu yang tumbang walau terhembus angin sedikit saja. Ada yang mampu kalahkan keadaan, sebaliknya, ada juga yang mudah menyerah, cengeng, tak punya semangat juang.</p>
<p><span style="color:#cc33cc;"><em><strong>Lau laa al-masyaqqoh lasaada an-naas kulluhu</strong></em></span></p>
<p><span style="color:#000099;"><em>“Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”</em></span></p>
<p><span id="more-182"></span>Begitulah kalimat yang terlontar dari lisan <em>al-mutanabbi</em> (sastrawan arab tempoe doeloe) tentang makna dibalik problematika hidup. Baginya hanya orang-orang yang telah melewati pahit getirnya kehidupanlah yang ‘kan jadi orang mulia. Bukankah manusia yg paling  mulia di atas muka bumi ini adalah mereka  yang paling berat ujian hidupnya?! Bacalah kembali sejarah para Nabi maka tuan dan puan akan pahami. Lalu mengapa mereka begitu tegar tak tergoyahkan ?! Tak lain karena mereka punya tekad yang kuat untuk gapai cinta Ilahi.</p>
<p>Kita juga dapati perjuangan hidup yang dahsyat dalam biografi orang-orang besar. Salah jika kita anggap keberhasilan mereka bagai hadiah yang turun dari langit, dan simsalabim mereka sukses. Tentu saja mereka telah pernah terjatuh, terhanyut sejenak, kemudian berenang bahkan tenggelam dalam ujian. Hasil  dan kebijaksanaan ditentukan di sana. Kita harus yakin bahwa Allah selalu mencintai hambanya yang gigih berjuang, tak mudah putus asa.</p>
<p>Jadi…. Apabila ada seorang di antara Tuan dan Puan sekalian yang saat ini sedang murung karena beratnya ujian hidup, tersenyumlah! Jangan pelihara kesedihan itu! Karena sesungguhnya Allah tengah melatih Anda untuk jadi orang yang mulia.</p>
<p>Apabila ada seorang di antara Tuan dan Puan sekalian yang saat ini sedang putus asa, bangkitlah! Karena sesungguhnya dalam kesulitan itu terdapat berbagai kemudahan.</p>
<p>Dan apabila Anda terbelenggu rasa malas lewati hari mengejar cita-cita. Cobalah lebih keras terhadap kehidupan, disiplinlah!!! Lawan dan kalahkan rasa malas itu!!! Niscaya Anda akan melihat kehidupan menjadi hamba, ia akan tunduk mempersilahkan Anda menguasainya. Jika sudah demikian adanya, maka langkah Anda menuju masa depan yang gemilang pun ‘kan jadi semakin ringan.</p>
<p><span style="color:#cc33cc;"><strong><em>Ihrish &#8216;ala ma yanfa&#8217;uka wasta&#8217;in billah wa laa ta&#8217;jizanna!!! </em></strong></span></p>
<p><span style="color:#000099;"><em>“Kobarkanlah semangatmu untuk hidup yang penuh manfaat, mohonlah pertolonganNya dan jangan pernah menyerah!!!”</em></span></p>
<div style="text-align:right;">Kampong Ateuk Jawo, Banda Aceh 15 April 2008<br />
06.15 ba’da shubuh<br />
Ichsan Mufti</div>
<p>* Judul ini diberikan oleh adik saya Meutia Atika Faradilla. Seorang calon dokter yang solehah (amin), berbakti pada orang tua, giat belajar, lucu, dan kalau tertawa manis sekali :p</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=182&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/04/16/berjuanglah-jangan-pernah-lelah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Banda Aceh 14 Februari</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/02/14/banda-aceh-13-februari/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/02/14/banda-aceh-13-februari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 14:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[
Darussalam 22.00 WIB
Hanya sebuah rekam jejak kehidupan. Saya berharap banyak memperoleh kuliah tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih bijak meniti hidup&#8230;
Di sini&#8230;
Di Banda Aceh&#8230;
Aku mencium aroma angin kesedihan masa lalu yang pilu
Namun perlahan dia hilang
Berganti dengan semerbak semangat masa depan yang membara
Wassalam

&#160;
Ichsan Mufti
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=181&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/02/syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg" title="syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg"><img src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/02/syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg?w=410&#038;h=227" alt="syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg" height="227" width="410" /></a></p>
<p><b>Darussalam 22.00 WIB</b></p>
<p>Hanya sebuah rekam jejak kehidupan. Saya berharap banyak memperoleh kuliah tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih bijak meniti hidup&#8230;</p>
<p>Di sini&#8230;<br />
Di Banda Aceh&#8230;<br />
Aku mencium aroma angin kesedihan masa lalu yang pilu<br />
Namun perlahan dia hilang<br />
Berganti dengan semerbak semangat masa depan yang membara</p>
<p align="right">Wassalam</p>
<div align="right"></div>
<p align="right">&nbsp;</p>
<p align="right">Ichsan Mufti</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=181&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2008/02/14/banda-aceh-13-februari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2008/02/syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumput Tetangga Jauh Lebih Hijau</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/11/14/rumput-tetangga-jauh-lebih-hijau/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/11/14/rumput-tetangga-jauh-lebih-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2007 14:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/11/14/rumput-tetangga-jauh-lebih-hijau/</guid>
		<description><![CDATA[Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.
Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=178&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img border="0" align="left" width="118" src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/11/images.jpg?w=118&#038;h=89" height="89" style="width:143px;height:129px;" />Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.</p>
<p>Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin tak kurang suatu apa. Padahal Anda juga pernah mendengar sahabat Anda lainnya yang tampan itu &#8211; si ‘Allan- ingin bisa hidup nyaman seperti si Fulan. “Duh alangkah bersyukurnya aku jika bisa hidup enak seperti si Fulan itu. Mau apa juga tinggal beli”. Katanya.</p>
<p>Dalam hati Anda mungkin mendumel: “Duh&#8230; Kalian ini kenapa?! Tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan kepada kalian. Lihat diriku! Sudah jelek, ga ada yang mau, miskin pula. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />   <span id="more-178"></span></p>
<p>Tuan dan Puan sekalian yang saya muliakan. Sesungguhnya ketika itulah sebuah kesempurnaan hidup, kenyamanan, ketampanan, kekayaan dan sebagainya menemui maknanya yang relatif. Kita mungkin pernah mempunyai gambaran tentang bagaimana hidup yang sempurna. Namun ketika gambaran tersebut telah tercapai kita ingin sesuatu yang lebih sempurna lagi. Begitulah manusia, jika diberi segunung emas ia akan meminta segunung lagi. Teruuuus seperti itu sampai tanah kuburan memenuhi mulutnya.</p>
<p>Kita sering sekali mengeluh karena seperti- sepertinya hidup kita ini dipenuhi dengan masalah. Seakan kita orang yang paling sengsara di dunia. Ketika ditimpa suatu musibah kita merasa seakan kitalah yang paling naas nasibnya, celaka dua belas.</p>
<p>Kita juga sering mengeluh karena kekurangan harta. Seakan berjuta rupiah yang Allah berikan setiap bulannya tiada berarti apa. Kalau sudah begini, masalahnya bukan terletak pada musibah atau banyaknya harta itu sendiri. Tapi pada bagaimana cara kita menyikapi, bagaimana kita mensyukuri.</p>
<p>Padahal di sisi kehidupan yang lain kita melihat jutaan orang yang tengah sengsara; siang –malam teraniaya, disiksa, dibunuh sanak saudaranya, dirampas hak-haknya, hingga diinjak harga dirinya sebagai manusia. Di sisi lain dunia juga ada berjuta gelandangan, pengemis jalanan, mereka yang tidur di kolong jembatan, para kaum miskin-papa. Tiada punya suatu apa menurut ukuran kita.</p>
<p>Namun, di antara mereka ada yang masih bisa tersenyum tulus dan ucapkan “Alhamdulillah”. Mereka masih punya s-y-u-k-u-r dalam hatinya.</p>
<p>Lalu, mengapa kita tidak?!</p>
<p>Lihatlah mereka yang &#8220;di bawah&#8221; niscaya kita akan bersyukur&#8230;. Dan setelah syukur itu kita dapat, bahagiakanlah mereka itu, yang telah membantu kita memperoleh perasaan yang telah menjadikan jiwa kita kaya raya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=178&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/11/14/rumput-tetangga-jauh-lebih-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/11/images.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Medan 24 Oktober</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/10/24/medan-24-oktober/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/10/24/medan-24-oktober/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 15:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Talkative Soul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/10/24/medan-24-oktober/</guid>
		<description><![CDATA[Saya menuliskan ini pada sebuah awal malam. Hawa panas yang tadinya bersemayam di tembok-tembok rumah kami kini hilang bersama air hujan diserap bumi, srrrrp….. Ya, hari ini rabu yang panas menyengat sekaligus malam kamis yang dingin.  
Namun rumah kami tetap seperti biasa. Hangat oleh cinta.
Lama saya tak menulis. Lama sekaligus jauh tepatnya. Lama, tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=174&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/10/0006764.jpg?w=92&#038;h=85" align="left" height="85" width="92" /><span>Saya menuliskan ini pada sebuah awal malam. Hawa panas yang tadinya bersemayam di tembok-tembok rumah kami kini hilang bersama air hujan diserap bumi, srrrrp….. Ya, hari ini rabu yang panas menyengat sekaligus malam kamis yang dingin. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><font color="#ff99ff"><strong>Namun rumah kami tetap seperti biasa. Hangat oleh cinta.</strong></font></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Lama saya tak menulis. Lama sekaligus jauh tepatnya. Lama, tentu saja Tuan dan Puan sekalian paham apa maksud saya. Jauh, karena saya telah kembali ke rumah, berkumpul bersama ayah ibu dan adik. Perjalanan kembali yang telah menjadikan <a href="http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/17/antara-lelaki-yang-lembut-hatinya-dan-seorang-yang-menutup-mata/" title="yang ini saya tulis waktu di Jogja">tulisan saya yang terakhir</a> dengan tulisan ini jadi jauh secara geografis. Tapi tak mengapa, baik <a href="http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/04/25/jogja-selamat-tidur/">Yogyakarta</a>, <a href="http://Bireun" title="-beberapa waktu lalu agak lama saya di sana-">Aceh</a> maupun Medan Sumatera Utara dan seluruh tempat di dunia pasti sisakan ruang perenungan untuk kita.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span>Semua kita perlu sesekali <strong>merenung</strong>. Merenung bukan berarti melamun. Karena ternyata bilik hati kita punya dawai. Bentuknya lebih halus dari serat-serat <span> </span>sutera. Dawai yang mampu berbunyi <span> </span>dan berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani kita sendiri.   </span><span id="more-174"></span><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span><font color="#3333ff">Dawai itu dapat tergetar dengan lembutnya; oleh pandangan, sentuhan, suara dan suasana. <font color="#cc0000">Namun ada kalanya dawai itu diam tak mau hasilkan nada; karena dosa, dendam, benci dan lainnya</font>. <font color="#cc66cc">Maka tahan diri kita dari dosa, maafkanlah, sayangilah dan berbuat baiklah kepada manusia</font></font>. Karena jika telah demikian </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span></span></p>
<blockquote><p><font color="#33cc00"><em>Di mana pun kita berada </em></font></p>
<p><font color="#33cc00"><em>Bagaimana pun keadaannya </em></font></p>
<p><font color="#33cc00"><em>Kita mampu ciptakan “surga”</em></font></p>
<p><font color="#33cc00"><em>Dalam diri kita&#8230;&#8230;  </em></font></p>
<p><font color="#33cc00"><em>Dalam hati kita sendiri</em></font></p>
</blockquote>
<p class="MsoNoSpacing"><span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing"><span> </span></p>
<p>Terima Kasih <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=174&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/10/24/medan-24-oktober/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/10/0006764.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Berhenti Untuk Saling Menasehati</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/17/antara-lelaki-yang-lembut-hatinya-dan-seorang-yang-menutup-mata/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/17/antara-lelaki-yang-lembut-hatinya-dan-seorang-yang-menutup-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Aug 2007 01:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/17/antara-lelaki-yang-lembut-hatinya-dan-seorang-yang-menutup-mata/</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia &#8220;menangis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=160&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia &#8220;menangis kenapa?&#8221;. Ia menjawab&#8221;tangis haru mengingat cinta kasih ibunda padaku. Setelah melihat seorang ibu yang memeluk anaknya di taman itu aku rindu ibu, rindu kasih sayangnya, rindu nasehat-nasehatnya&#8221;. Dan Azan maghrib pun mengalun sendu bersama ketakjubanku terhadap lembut hatinya. <span id="more-160"></span></p>
<p>Di lain waktu seorang diantara kita pernah terhenyuh hatinya melihat pengemis kecil-hitam- kumal di jalanan yang sebenarnya setiap hari ia lalui. Dalam batin ia berandai; Oh, seandainya dunia ini tak menyisakan kepedihan, kenestapaan, seandainya semua orang hidup bahagia. Namun kenyataan berkata lain dan itu ia tak bisa pungkiri. Ia pun paham bahwa sebenarnya ini kesempatannya untuk berbagi. Maka ia keluarkan lembaran-lembaran dari poketnya. Kali ini bukan hanya recehan seperti biasanya. Toh ia masih punya banyak lembar lainnya yang lebih mahal warna dan nominalnya. Sungguh menakjubkan karena ia baru tahu bahwa berbagi ternyata lebih nikmat dari pada membeli hanya sekedar demi kepuasan sendiri.</p>
<p>Kita pun pernah lihat bagaimana seorang pemuda yang tenggelam hari-harinya dalam dosa dan kehampaan. Namun suatu ketika sebuah nasehat menusuk hatinya, mengisi relung-relung jiwanya. Ia tersungkur, ia bertaubat. Dan kini ia adalah penyebar kebaikan dan kasih sayang kepada manusia.</p>
<p>Sebaliknya. Kita pernah pula lihat seorang yang keras hatinya. Beribu-ribu nasehat telah melintasi telinganya. Beratus-ratus musibah peringatan telah mewarnai hari-harinya. Berjuta-juta detik dalam hidupnya telah terpuaskan oleh kegalauan karena dosa, kedurhakaan dan ketidakpedulian kepada Pencipta juga kepada sesama. Namun ia tak juga sadar. Ia tutup matanya, ia sumbat telinganya ia bungkam suara hatinya, ia bunuh nu-ra-ni-nya sen-di-ri. Hatinya keras bagai batu.</p>
<p>Namun ingat! Batu pun perlahan dapat terkikis hanya oleh tetesan air yang lembut. Maka saya katakan:<font color="#cc33cc"><big><br />
</big></font></p>
<blockquote><p><font color="#cc33cc"><big>&#8220;jangan pernah berhenti untuk saling menasehati!&#8221;</big></font></p></blockquote>
<p>Tuan dan Puan sekalian yang saya sayangi. Tak lengkap rasanya tulisan singkat ini jika tanpa pertanyaan yang bagus untuk kita ajukan kepada diri kita sendiri:</p>
<blockquote><p><font color="#000099"><big>Lembut atau keraskah hati kita ini?</big></font></p></blockquote>
<p>Bukankah kita ingin cepat pintar memahami kejadian, merenungi nasehat, memaknai kehidupan, menuju kematian?!</p>
<p>Kita tak ingin jadi orang tuli-nurani dan bebal hati. Benar, kan?????</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=160&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/17/antara-lelaki-yang-lembut-hatinya-dan-seorang-yang-menutup-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Menertawai&#8221; Masa Lalu</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/08/menertawai-masa-lalu/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/08/menertawai-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 03:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Talkative Soul]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/08/menertawai-masa-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=159&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. <font color="#000099">Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan</font>. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.</p>
<p>Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. <font color="#990000">Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita&#8230;. pernah &#8220;tak merasa kita salah&#8221;</font>. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.</p>
<p><span id="more-159"></span></p>
<p align="justify">Lantas, apakah itu semua mampu buat kita tambah baik jadinya?! Tidak&#8230; Kar’na kesalahan tetaplah kesalahan sebelum ia diperbaiki atau dihapuskan, kekeliruan tetaplah kekeliruan sebelum ia dikoreksi, dan dosa tetaplah dosa sebelum ia ditaubati.</p>
<p>Maka benar juga kata orang-orang itu. <font color="#009900">“Lebih baik jadi mantan preman daripada mantan ustadz”</font>. Apa sebabnya?!. Karena mantan preman -yang mungkin telah menjadi ustadz kini- adalah ia yang menertawai masa lalunya yang bodoh dan lucu sehingga akhirnya ia paham apa sejatinya makna hidup dan kehidupan. Sedangkan mantan “ustadz-ustadzan” -yang mungkin telah menjadi pendosa kini- adalah ia yang menjadi picik karena tak pernah mau berdialog dengan nuraninya sen..diri. Ke-ustadzan-nya dahulu hanyalah simbol yang dangkal, tanpa pernah ia coba membumikannya dalam kesadaran hidupnya. Lihatlah ia terperosok jauh sekali. Tapi kita berdoa, mudah-mudahan sebelum mati ia dapat “kembali”.</p>
<p>Tuan dan Puan sekalian yang saya sayangi. Beberapa waktu lalu Anda mungkin saja bertemu kembali dengan sahabat lama anda. Anggap saja namanya Budi. Dahulunya Anda anggap Budi adalah sampah bagi manusia. Kebiasaannya tak lain hanyalah bernafas -seringkali dengan &#8220;bantuan&#8221; asap rokok-, makan, tidur, menghabiskan harta orang tua, selalu mengucap “malas” untuk suatu yang bermanfaat dan tak berminat kecuali dalam urusan syahwat. Anda pernah menduga bahwa ia akan terus menghabiskan waktunya menuju ajal dengan selalu menyusahkan manusia di sekelilingnya.</p>
<p>Namun ternyata Anda terkaget-kaget tak menentu ketika pertemuan kembali itu. Apa yang terjadi?! Budi berubah kini. Hidupnya lebih cerah dari Anda. Bukan hanya masalah materi, tapi secara spiritual ia begitu hebat kini. Disaat Anda merasakan sempitnya hati karena jiwa yang kian kering gulita, ia datang memberikan Anda nasihat yang sejuk bagaikan embun di pagi hari. Disaat Anda galau dan bimbang bertanya-tanya maksud sebenarnya hidup dan kehidupan ini, ia datang dengan berbagai penjelasan yang membuat hati anda tenteram benderang. Awalnya Anda mungkin menolak, karena Anda merasa masa lalu Anda lebih baik darinya. Namun Anda lupa, bahwa Anda jarang sekali berintrospeksi, bahwa Anda tak pernah belajar dari kesalahan. Anda tersungkur. Dan harapan saya di masa depan Anda akan menertawai sikap Anda ini.</p>
<p>Sedangkan si Budi itu adalah pembelajar sejati, yang tak pernah ingin melewatkan sekecil apa pun kesalahan dalam hidupnya di masa lalu untuk dinobatkan menjadi guru dalam perjalanannya menuju masa depan. Tentu ada titik balik dalam hidupnya yang membuat menyadari kesalahannya dan menjadikannya begitu berbeda kini. Mungkin ia tersentak sadar ketika ayahnya meninggal dunia, atau ibunya, atau selepas kecelakaan, atau juga sehabis bencana yang menimpa dirinya, atau karena tak sengaja duduk mendengar kajian ketika maksud hati  berlari pagi melintasi masjid kampus UGM hari minggu pagi, atau juga ketika ia membaca tulisan yang menggugah hati. Hmmm, memang setiap orang punya cara yang berbeda-beda ketika menyongsong hidayah. Semoga Anda mengalaminya sebaik dan sesegera mungkin.</p>
<p>Intinya yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini adalah; Ambillah pelajaran dari setiap kesalahan yang Anda lakukan, dan berjanjilah bahwa Anda tak akan mengulangi kesalahan tersebut. Toh setiap manusia pernah salah, pernah terjatuh dalam dosa dan maksiat. Namun yang terpenting dalam perspektif Islam adalah sejauh mana seorang itu memiliki semangat untuk berintrospeksi dan bertaubat secara konstan. <font color="#993399">Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah seorang dapat mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal bagi kelanjutan langkah-lagkahnya menuju kehidupan yang berjaya dunia dan akhirat.</font></p>
<blockquote><p><font color="#999999">Sebab, taubat hakikatnya adalah proses perbaikan diri secara berkelanjutan. Dengan taubat itulah seorang dapat mengubah setiap kesalahan menjadi pelajaran mahal bagi kelanjutan langkah-lagkahnya menuju kehidupan yang berjaya dunia dan akhirat.</font></p></blockquote>
<p align="justify"><strong>*</strong> Tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang teman  lama yang secara mengejutkan menemukan saya di dunia maya. Kami telah sangat lama berpisah. Dahulu saya sangat murah nasehat kepadanya. Namun kali ini justru ia yang telah hadir kembali dalam kehidupan saya dengan berbagai motivasi hidup, bermacam nasehat serta aneka renungan. Terima kasih Akh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=159&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/08/08/menertawai-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kegagalan?!</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/07/04/kegagalan/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/07/04/kegagalan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 14:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Talkative Soul]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/07/04/kegagalan/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi&#8230;&#8230; Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=155&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">&nbsp;</p>
<blockquote><p><font color="#666666"><big><big>S</big></big>etelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi&#8230;&#8230; Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. </font><font color="#666666">Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar.</font></p></blockquote>
<p>Itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum <font color="#cc0000"><em>si “yang berjiwa kerdil”</em></font>. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya.</p>
<p>Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun <font color="#cc0000"><em>si “yang berjiwa kerdil”</em></font> ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. <span id="more-155"></span></p>
<p>Beda halnya dengan <font color="#009900"><em>si “yang berjiwa besar”</em></font>. Ia begitu memahami bagaimana mensiasati berbagai perasaan yang ada. Ia tahu bahwa hidup ini penuh dengan aneka rupa warna rasa: Di sana ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembira di depan sedih. Dan <font color="#009900"><em>si “yang berjiwa besar”</em></font> ini piawai nian meracik warna-warna itu menjadi lukisan indah kehidupan. Amboi, ia pintar betul.</p>
<p>Ck ck ck&#8230;. <font color="#009900"><em>Si “yang berjiwa besar”</em></font> ini ketika gagal tak pernah tertarik untuk mengutuk kegagalan itu, bahkan ia selalu berhasil menganggapnya sebagai cobaan hidup yang menghantarkannya menuju strata yang lebih tinggi dalam universitas kehidupan ini. Karena ternyata dalam hidup ini terlalu banyak yang lebih pelik daripada hanya sekedar skripsi, tesis, desertasi, lamaran kerja, lamaran seorang pemuda kepada pujaan hati di hadapan calon mertua, atau apa pun lainnya.</p>
<p>Tuan dan Puan tahu apa yang membuatnya begitu kuat? Itu karena ia punya optimisme, sebuah gelora jiwa yang lahir dari sebuah harapan yang matang. Yang muncul dari latihan panjang yang begitu melelahkan. Kini jiwanya pun telah sekokoh karang. Tenang walau gelombang badai menerjang. Ia paham kata pujangga:</p>
<blockquote><p><font color="#999900">…kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan <em>How to</em>… Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana … </font></p></blockquote>
<p><em><strong>Tuan dan Puan sekalian..</strong><br />
</em><br />
Adalah sangat mengerikan disaat seorang melalui hidup tanpa gairah, tanpa semangat, mencekam di bawah bayang-bayang keputus-asaan.</p>
<p>Kondisi seperti ini biasanya terjadi ketika seorang mengalami kegagalan yang berulang-ulang ditengah ketidakberdayaan. Bagaikan memanjat sebuah tebing yang tinggi namun jatuh dan jatuh lagi, kemudian berusaha lagi, tapi gagal dan gagal lagi. Ancaman yang paling berbahaya dari kondisi di atas adalah pupusnya harapan, lenyapnya optimisme dan habisnya kegembiraan jiwa yang akan menghantarkan seorang menuju kehilangan kepercayaan kepada waktu dan dirinya sendiri.</p>
<p>Tapi lihatlah <font color="#009900"><em>si “yang berjiwa besar”</em></font> ini. Ia memilih untuk bersikap lebih santai menghadapi itu semua. Ia biasa mengatakan. “Tinggalkan urusan itu. Lakukan sesuatu yang lain.” Namun, ia sebenarnya tidak meninggalkan urusan itu. Ia mungkin terlihat sedang melakukan sesuatu yang lain, tetapi sebenarnya ia hanya mau memikirkan urusan itu dari kejauhan. Ia menjaga jarak jiwanya dari urusan itu untuk tetap mempertahankan wilayah kegembiraan jiwa dari serbuan keputusasaan. Ia memang memilih untuk santai, tetapi lihatlah!! Dari sana ia menemukan cara pandang baru, atau inspirasi baru terhadap urusan di mana ia telah gagal menggapainya tempo hari itu.</p>
<p>Hari demi hari terus berlalu&#8230;&#8230; Ia semakin bijak setelah menghayati kembali doa yang biasa ia ucapkan dalam hari-hari berat itu. Dari sana ia mengerti bahwa ketika gagal, sesungguhnya sesuatu yang lebih baik sedang menantinya di masa depan. Doa itu berbunyi:<br />
<img width="476" src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/07/untitled.jpg?w=476&#038;h=260" alt="istikharah" height="260" /><br />
<font color="#3333ff">“Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon darimu keutamaan-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sementara aku tidaklah kuasa. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha mengetahui yang hal-hal yang ghaib.</font></p>
<p><font color="#cc33cc">Ya Allah.. Bila Engkau mengetahui bahwa perkara ini lebih baik bagi agamaku, hidupku dan akhir urusanku kelak [dalam jangka pendek maupun panjang], maka takdirkanlah hal itu bagiku dan mudahkanlah aku untuk mendapatkannya, kemudian berkatilah aku dalam hal tersebut. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini tidak baik bagi agamaku, hidupku atau akhir urusanku kelak [dalam jangka pendek maupun panjang], maka jauhkanlah perkara tersebut dariku dan hindarkanlah diriku darinya, lalu takdirkanlah yang baik buat diriku bagaimana adanya, kemudian buatlah aku ini ridho kepadanya.*</font></p>
<p>Maka bertambah satu lagi alasan baginya untuk tidak pernah berputus asa.</p>
<p><strong>SEMANGAT!!!</strong></p>
<p align="center"><img src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/07/compasses01.thumbnail.jpg" alt="compasses01.jpg" /></p>
<p align="justify"><strong><font color="#cc33cc">*</font>Doa Sholat Istikharah </strong>(Memohon petunjuk dalam berbagai urusan hidup yang memang penuh dengan pilihan)</p>
<p>Berkata seorang sahabat Nabi yang mulia Jabir -radhiallahu &#8216;anhuma- bahwa Rasulullah telah mengajarkan Istikharah dalam segala urusan hidup ini. Rasulullah bersabda :</p>
<blockquote><p>Jika seorang di antara kalian merasakan gundah/bingung atau ragu terhadap suatu perkara maka hendaklah ia sholat sunnah dua raka&#8217;at kemudian setelahnya bacalah doa (seperti di atas)<font color="#3333ff"> </font></p>
<p><font color="#cc33cc"><font color="#000000">Dan sesungguhnya seorang hamba tidak akan kecewa dengan apa yang dipilihkan oleh Penciptanya setelah ia juga bermusyawarah dengan orang-orang beriman kemudian ia mantap dengan keputusannya.(<strong>Hadits Shohih diriwayatkan oleh imam al-Bukhari</strong>)</font></font></p></blockquote>
<p><strong>Sumber:</strong> Doa ke 26 dari buku kecil Hisnul Muslim (Doa dan Wirid) Karya Syaikh Sa&#8217;id bin Wahf al-Qahtahi. Teks arab saya ambil dari versi e-kitab dengan penjelasan dari Syaikh Majdi bin Abdil Wahhab al-Ahmad.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=155&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/07/04/kegagalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/07/untitled.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">istikharah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/07/compasses01.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">compasses01.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DARAH!!!</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/21/darah/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/21/darah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 07:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Indah]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[akhlaq muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/21/darah/</guid>
		<description><![CDATA[
Den&#8230; Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelahnya dengan transfusi.

Saya mencoba menebak sebagai apa ia berada di sana. Tampak sedang sungguh-sungguh berdiskusi jarak agak jauh dengan dua orang mahasiswi berjilbab panjang yang baru datang membawa selembar kertas bergambar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=152&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p align="justify">Den&#8230; Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelahnya dengan<em> transfusi</em>.</p>
</blockquote>
<p align="justify"><img src="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/06/blood.jpg?w=79&#038;h=93" align="left" height="93" width="79" />Saya mencoba menebak sebagai apa ia berada di sana. Tampak sedang sungguh-sungguh <em>berdiskusi jarak agak jauh</em> dengan dua orang mahasiswi berjilbab panjang yang baru datang membawa selembar kertas bergambar. Saya tak tahu apa isinya. Yang jelas mereka sedang membicarakan sebuah kegiatan sosial. Persisnya saya pun tak tahu, walau ingin sebenarnya. Tak lama setelah itu saya dihampirinya dan jadi tahu bahwa ia adalah seorang relawan.</p>
<p>Kami bertemu di sebuah sudut R.S.Sardjito tepatnya di ruang Unit Tranfusi Darah. Ruangan itu dingin, serba putih, penuh keramahan walau kamar kecilnya terkunci di balik sebuah gorden hijau yang sedikit tersibak. Kursi tunggu fiberglass berjejer di kedua sisi ruangan itu. Membiarkan “orang-orang yang cemas” mendudukinya. <span id="more-152"></span></p>
<p>Ia memang tak menyebut diri “Relawan”. Ia tak menyebut diri “Orang yang mau bersusah demi nyawa orang lain”. Ia tak menyebut diri “Seorang yang ikhlas”, atau apa pun yang lain. Ia tentu tak akan mengaku setinggi itu. Namun untuk yang pertama saya sudah dahulu tahu ia adalah itu, dan untuk selebihnya saya berfirasat ia sesuai. Dan satu lagi yang saya ketahui; Umam dia punya nama.</p>
<p>Kata “relawan” itu identik dengan bencana, musibah atau kesusahan, dan memang tepat, karena mereka adalah “yang rela” masuk ke dalamnya setelah sebelumnya berada pada zona yang nyaman. Namun dari manakah mereka datang? Apakah yang membuat mereka hadir di tengah suasana yang mencekam? Untuk pertanyaan pertama jawabnya adalah penjuru sedang yang kedua adalah “Hati”.</p>
<p>Ya, hati yang terhenyuh karena sebuah duka yang minta diobati.</p>
<p>Dan semoga itulah yang menghantarkan saya dan beberapa rekan lainnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang dingin, putih, diam, sunyi dan tak terlalu bahagia. Sebuah ruangan di mana kami akan memberikan 350cc darah segar yang bersusah payah dihasilkan oleh tubuh kurus kami kepada seorang bocah 14 tahun.</p>
<p>Deni namanya. Leukimia penyakitnya. Dan ketika saya bertanya “berapa bulan sekali <em>transfusi</em>?”. Seorang ibu yang beraktivitas seperti drakula itu berkata: “tak sampai selama itu. Deni punya rumah kedua, disini”. Dan golongan darah AB ternyata sangat sulit dicari.</p>
<p>Saya sendiri awalnya agak gentar setelah tak mendonorkan darah empat tahun terakhir ini. Namun ternyata kenyataan terlalu ringan dibandingkan bayangan. Hanya bagai digigit serangga kemudian “cyurr” darah saya mengalir ke dalam sebuah kantong plastik. Namun ternyata<em> vena</em> saya kecil sehingga harus sedikit bersabar sebelum 350cc itu selesai.</p>
<p>Sejak awal hingga akhir saya perhatikan benar prosesi berdarah itu. Dan alhamdullillah saya cukup menikmati semuanya. Kenikmatan karena telah mencoba membuat orang lain bahagia -Semoga Allah menerimanya-. Kenikmatan yang tentu tak sama dengan kenikmatan yang akan dirasakan Deni, walau hanya untuk sesaat, namun saya berharap darah saya ini berarti.</p>
<blockquote><p>Den&#8230; Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelah dengan<em> transfusi</em>.</p></blockquote>
<p>Dan setelah itu saya diberi segelas susu dan sepapan “sakatonik LIVER” yang masih sempat membuat hati saya gerimis sebelum pergi meninggalkan ruangan putih itu, sebelum bersalam pamit dengan mas Umam yang ternyata masih mencari darah empat orang lagi untuk Deni.</p>
<p>Gerimis hati saya karena di balik kemasan penambah darah itu saya membaca sepenggal makna:</p>
<blockquote><p><font color="#cc33cc">Para donor darah yang terhormat, </font><br />
<font color="#3333ff">Hari ini Saudara telah menyumbang darah, sebagian dari milik Saudara yang berharga. Mereka yang tertolong dengan sumbangan darah tersebut, bahkan yang diselamatkan jiwanya tak dapat berterima kasih secara langsung, tapi Tuhan Maha Tahu, semoga  amal baik Saudara dibalas-Nya. Kami harapkan Saudara untuk menjadi donor secara teratur dan ajaklah keluarga, teman atau siapapun menjadi donor darah sukarela.</font></p></blockquote>
<p>Dan beberapa waktu setelah itu datang seorang Abang dengan badan yang tegap. Ia mengisi formulir, mempersiapkan diri untuk diambil darahnya sambil membiarkan wajah cerahnya menghiasi ruang. Dan satu lagi yang membuat saya kagum: ternyata ia lakukan itu setiap tiga bulan sekali, rutin. Subhanallah</p>
<p>Saya ingin akhiri tulisan ini dengan sebuah doa buat Deni dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari:</p>
<p align="right"><font color="#cc33cc"><big>اللهما رب الناس. أذهب البأس و اشف أنت الشافي. لا شفاء إلا شفاؤك, شفاء لا يغادر سقما</big></font></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<blockquote><p>“Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit tersebut dan sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikit pun penyakit lagi”</p></blockquote>
<p>Amin.</p>
<p><font color="#cc33cc"><br />
</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=152&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/21/darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ichsanmufti.files.wordpress.com/2007/06/blood.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Teman Hidup</title>
		<link>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/10/teman-hidup/</link>
		<comments>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/10/teman-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2007 09:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichsanmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jum'at]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/10/teman-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan segala bentuk pertemuan dan perpisahan. Yang telah menentukan segala bentuk kehidupan dan kematian. Agar manusia dapat bersyukur terhadap berbagai macam kenikmatan dan kelapangan sebelum datang kepadanya ujian berupa kesulitan.
Shalawat serta salam selalu kita curahkan kepada nabi kita Muhammad Shalllahu ‘alaihi wasallam karena telah mengajarkan kepada kita makna sesungguhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=151&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan segala bentuk pertemuan dan perpisahan. Yang telah menentukan segala bentuk kehidupan dan kematian. Agar manusia dapat bersyukur terhadap berbagai macam kenikmatan dan kelapangan sebelum datang kepadanya ujian berupa kesulitan.</p>
<p>Shalawat serta salam selalu kita curahkan kepada nabi kita Muhammad Shalllahu ‘alaihi wasallam karena telah mengajarkan kepada kita makna sesungguhnya dari hidup dan kehidupan.</p>
<p>Telah menjadi ketentuan Allah bahwasanya manusia seluruhnya akan melewati berbagai perjalanan panjang menuju janji Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari alam ruh kita dipindahkan ke alam rahim kemudian dilahirkan oleh ibu kita tercinta. Setelah menginjakkan kaki di dunia ini kita pun tumbuh. Dahulunya kita adalah bayi mungil kemudian beranjak remaja, dewasa, membangun keluarga kemudian menjadi renta hingga akhirnya kita semua akan mati. <span id="more-151"></span></p>
<p>Setelah mati kita pun dikubur sendiri dalam liang yang sempit dan sunyi. Kita berpindah ke alam barzakh untuk kembali melanjutkan perjalanan panjang kita menuju janji Allah Subhanahu wata’ala yaitu akhirat yang kekal abadi. Maka beruntunglah mereka yang semasa hidupnya selalu berada di bawah cahaya hidayah dan sungguh merugi mereka yang hari-harinya di dunia ini hanya terlukiskan oleh tinta-tinta kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Dalam perjalanan kita di dunia ini. Tentunya kita hidup dalam sebuah lingkungan sosial. Dan sebagai makhluk sosial  kita sangatlah membutuhkan teman dan pergaulan. Di sekolah, di tempat kerja ataupun di lingkungan tempat tinggal kita. Kita selalu berinteraksi dengan orang lain. Sehingga tak diragukan lagi bahwasanya teman dan pergaulan merupakan elemen yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter jiwa seorang manusia.</p>
<p>Islam, sebagai agama yang sempurna, sejak dahulu telah menjelaskan kepada kita tentang konsep pergaulan sosial yang ideal. Karena telah nyata dari masa ke masa bahwa pergaulan dengan teman atau masyarakat yang baik akan mendorong seseorang itu menjadi individu yang baik. Sebaliknya, bergaul dengan teman atau masyarakat yang buruk akan menyeret seseorang kepada keburukan demi keburukan. Cepat atau lambat. Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote><p> “Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi tidak akan merugikanmu baik kamu membeli minyak wangi tersebut atau tidak, engkau pasti akan mencium darinya aroma yang semerbak. Sementara dekat dengan pandai besi hanya akan membuat bajumu gosong atau paling tidak kau akan menghirup bau yang tidak sedap darinya”(H.R.Bukhari dan Muslim)</p></blockquote>
<p>Berdasarkan hadits di atas kita dapat menyimpulkan bahwasanya dengan bergaul dengan teman yang baik kita juga akan menjadi baik. Kalaupun tidak menjadi baik, paling tidak kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukannya.  Sedangkan bergaul dengan teman yang jahat hanya akan membuat kita terjerumus ke dalam kejahatan. Kalaupun mungkin kita tidak terjerumus, paling tidak kita akan merasakan akibat dari kejahatan yang dia lakukan.</p>
<p>Begitu pentingnya masalah pergaulan ini sampai-sampai Rasulullah menjadikan teman sebagai salah satu parameter kepribadian seseorang. Dengan siapa seorang itu bergaul akan menjelaskan kepada kita gambaran kepribadian orang tersebut. Rasulullah bersabda:</p>
<blockquote><p>“Kondisi keagamaan seseorang sangat tergantung pada kondisi keagamaan temannya. Maka hendaknya kamu memperhatikan dengan siapa sebenarnya kamu tengah bergaul”(HR.Abu Daud, At-Tirmidzi dan Hakim dengan sanad Hasan)</p></blockquote>
<p>Sebuah bait syair arab pun telah menyebutkan hal yang serupa:</p>
<blockquote><p>“Jangan kau tanya langsung tentang bagaimana seseorang itu, tapi cukup tanyakan bagaimana temannya, karena sesungguhnya seseorang itu akan mengikuti langkah-langkah temannya.&#8221;</p></blockquote>
<p>Maka dari itu marilah kita kembali menata pergaulan kita dalam hidup ini. Dengan siapa kita bergaul dan dengan siapa kita memberikan loyalitas. Memang berat bagi seseorang untuk melepaskan diri dari lingkungan dan pergaulan yang buruk. Tapi marilah kita usahakan sejak sekarang. Mumpung semua belum terlambat. Sebelum pergaulan kita yang keliru menjerumuskan kita ke dalam penyesalan yang tiada akhir di akhirat kelak. Bukankanh Allah subhanahu wa ta’ala berfirman memperingatkan kita akan hal ini?!:</p>
<p align="right"><big>وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا. يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا . لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا</big></p>
<blockquote><p>“Dan hari itu ketika orang yang zalim menggigit dua tangannya [karena menyesal], seraya berkata: &#8220;Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul&#8221;. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku. Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.&#8221;(Al-Furqan:27-29)</p></blockquote>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Di antara bentuk pergaulan yang sangat menentukan masa depan suatu masyarakat adalah pergaulan dalam sebuah keluarga. Yaitu sejauh mana sebuah keluarga terbangun atas dasar saling mencintai karena Allah, setiap individu di dalamnya senantiasa patuh terhadap aturan-aturan Allah dan saling bekerjasama untuk mencapai Ridho-Nya. Tanpa itu semua maka sebuah keluarga hanya akan merusak setiap individu di dalamnya yang dengannya akan rusak pula kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Maka dari itu sejak awal proses membangun sebuah keluarga haruslah dilandasi oleh rasa saling mencintai karena Allah. Sehingga hubungan kasih sayang di antara anggota keluarga akan terus berlanjut hingga di akhirat kelak yang kekal abadi.</p>
<p>Tidakkah kita sering melihat keluarga yang dibangun hanya berdasarkan harta semata. Maka seiring berkurangnya harta maka hubungan cinta kasih sesama anggota keluarga pun akan berkurang. Kita juga sering melihat keluarga yang dibangun hanya atas dasar ketertarikan fisik antara sepasang suami-istri sahaja. Maka seiring pudarnya daya tarik jasmani karena termakan usia maka akan pudar pula kasih sayang diantara mereka berdua. Kita lihat pula sebagian keluarga yang dibangun demi mengejar status sosial yang terpandang. Maka kasih sayang diantara mereka pun tak kan abadi, ia akan berubah seiring putaran roda kehidupan yang tak pasti.</p>
<p>Beda halnya dengan sebuah keluarga yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah. Sepasang manusia bersatu demi sebuah cita-cita agung yaitu menggapai Ridho-Nya. Maka keluarga yang demikian ini akan memetik hasil yang mempesona tidak hanya di dunia yang fana ini namun berlanjut teruus hingga hari yang mana Allah telah berfirman tentangnya:</p>
<p align="right"><big>الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ </big></p>
<blockquote><p>“Para kekasih pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Az-Zukhruf:67)</p></blockquote>
<p align="right"><strong><em>Fakultas Teknik UGM Yogyakarta</em></strong><br />
Lisan 08 Juni 2007<br />
Tulisan 09 Juni 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ichsanmufti.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ichsanmufti.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ichsanmufti.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ichsanmufti.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ichsanmufti.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ichsanmufti.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ichsanmufti.wordpress.com&blog=541879&post=151&subd=ichsanmufti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichsanmufti.wordpress.com/2007/06/10/teman-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ichsanmufti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>