Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cinta’ Category

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan segala kerendahan hati insyaAllah kami akan melangsungkan akad nikah pada hari minggu/04 Januari 2009, di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada pukul 9.20 WIB (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.

Tuan dan Puan sekalian tentu mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau cobaan hidup datang silih berganti. Ada juga yang rapuh, mudah roboh, bagai pohon kayu yang tumbang walau terhembus angin sedikit saja. Ada yang mampu kalahkan keadaan, sebaliknya, ada juga yang mudah menyerah, cengeng, tak punya semangat juang.

Lau laa al-masyaqqoh lasaada an-naas kulluhu

“Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”

(lebih…)

Read Full Post »

Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.

Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin tak kurang suatu apa. Padahal Anda juga pernah mendengar sahabat Anda lainnya yang tampan itu – si ‘Allan- ingin bisa hidup nyaman seperti si Fulan. “Duh alangkah bersyukurnya aku jika bisa hidup enak seperti si Fulan itu. Mau apa juga tinggal beli”. Katanya.

Dalam hati Anda mungkin mendumel: “Duh… Kalian ini kenapa?! Tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan kepada kalian. Lihat diriku! Sudah jelek, ga ada yang mau, miskin pula. 😦  (lebih…)

Read Full Post »

Saya menuliskan ini pada sebuah awal malam. Hawa panas yang tadinya bersemayam di tembok-tembok rumah kami kini hilang bersama air hujan diserap bumi, srrrrp….. Ya, hari ini rabu yang panas menyengat sekaligus malam kamis yang dingin.

Namun rumah kami tetap seperti biasa. Hangat oleh cinta.

Lama saya tak menulis. Lama sekaligus jauh tepatnya. Lama, tentu saja Tuan dan Puan sekalian paham apa maksud saya. Jauh, karena saya telah kembali ke rumah, berkumpul bersama ayah ibu dan adik. Perjalanan kembali yang telah menjadikan tulisan saya yang terakhir dengan tulisan ini jadi jauh secara geografis. Tapi tak mengapa, baik Yogyakarta, Aceh maupun Medan Sumatera Utara dan seluruh tempat di dunia pasti sisakan ruang perenungan untuk kita.

Semua kita perlu sesekali merenung. Merenung bukan berarti melamun. Karena ternyata bilik hati kita punya dawai. Bentuknya lebih halus dari serat-serat sutera. Dawai yang mampu berbunyi dan berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani kita sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Agar bacaan kita aktif, maka akidah pembaca yang beragama Islam harus murni dan kuat sehingga dia bisa membaca dengan sadar. Demikian itu supaya sejak awal membaca, dia sudah memiliki dasar, sehingga dasar itu dia jadikan sebagai pijakan yang ia sadari ketika membaca. Jika dia membaca sebuah buku, dia selalu meneranginya dengan cahaya lampu Islam. Dasar dan pendidikan itu berfungsi sebagai landasan untuk meluruskan buku-buku itu dan sebagai ukuran untuk membedakan mana yang benar dan yang salah dan untuk mengkritik.

Seorang pembaca Muslim harus senantiasa menghadirkan ukuran kritik berdasarkan cahaya syariat di sela-sela bacaannya, khususnya ketika membaca buku-buku yang rancu dan tidak dikenai, sehingga dia akan mengkritik apa yang dibacanya berdasarkan akidah Islam dan dalil-dalil syariat yang dikenalnya serta hadits-hadits mana yang shahih dan cacat. Dengan begitu rnaka bacaan kita akan menjadi bacaan yang sadar dan aktif.
Faktor-faktor yang Dapat Merusak Kesadaran

(lebih…)

Read Full Post »

Demam Buku

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan pena sebagai ciptaan yang pertama kali diciptakan seraya berfirman, “Tulislah!” rnaka pena pun menulis apa yang akan terjadi hingga Hari Kiamat. Puji syukur ke hadirat Allah yang telah memberikan nikmat pena dan tulisan kepada hamba-hamba-Nya dan menjelaskannya seraya berfirman,

“Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.” (Al-Qalam: 1)

Sumpah dalam ayat ini menunjukkan atas keagungan qalam (pena) dan tulisan, karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung. Di antara nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat berbicara seperti yang difirmankan-Nya,

“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya kepandaian berbicara.” (Ar-Rahman: 3-4) (lebih…)

Read Full Post »

Mendadak dunia jadi sunyi. Rekaman nostalgia kehidupan kita mulai memantulkan gambarnya tepat ke tembok perenungan didepan kita. Seharusnya tembok itu putih bersih, tapi apa dikata, guratan-guratan noda telah membuat gambar terlihat sedikit buram tidak seperti yang seharusnya.

Seketika kita jadi jujur. Sejujur tangisan bayi yang mengiba. Jujur kar’na tak ada lagi jalan tuk berdusta, dimana lisan dan hati enggan tuk berkata palsu. Tiada lagi makna yang relatif, tiada lagi tanda tanya, tiada lagi permainan, tiada lagi kepalsuan. Karena ketika itu tiada lagi kesempatan, yang ada hanya jawaban. Dan satu yang paling menyeramkan; “Tak berguna lagi penyesalan”. Nafas ketika itu begitu mahal hingga akhirnya tak terbeli. Ketika salah satu dari kita mati.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »