Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Spiritual Blogging’ Category

Kembali Lagi

Assalamu’alaikum Tuan dan Puan sekalian. Lama tak saya beri kabar, hari ini saya kembali. Mohon maaf, tak cukup energi dan kemauan saya untuk menulis akhir-akhir ini. Selain disibukkan dengan rutinitas  yang semakin hari semakin “seru” saja, lagipula saya merasa tak begitu banyak lagi yang mampu saya bagi dalam blog ini.

Namun Alhamdulillah malam ini, berkat dukungan dari istri dan celotehan si kecil, saya merasa harus kembali menulis, paling tidak sebagai rekam jejak kehidupan saya pribadi dan keluarga. Sekaligus mengasah lagi rasa yang telah lama saya lupa. Rasa manis ketika kita bisa berbagi kata kepada sesama..

Wassalam

Banda Aceh, di kawasan belakang Hotel Hermes Palace Ulee Kareng

21.30 WIB

Iklan

Read Full Post »

Ketika kita keras terhadap kehidupan,niscaya kehidupan akan tunduk kepada kita. Sebaliknya, ketika kita lemah terhadapnya maka kita akan mudah ia kalahkan, kita jadi gampang menyerah.

Tuan dan Puan sekalian tentu mengerti bahwa jiwa manusia itu terbentuk berdasarkan bagaimana ia melewati kehidupan dan bagaimana ia memaknainya. Ada jiwa-jiwa yang kokoh bagai karang, tak goyah walau cobaan hidup datang silih berganti. Ada juga yang rapuh, mudah roboh, bagai pohon kayu yang tumbang walau terhembus angin sedikit saja. Ada yang mampu kalahkan keadaan, sebaliknya, ada juga yang mudah menyerah, cengeng, tak punya semangat juang.

Lau laa al-masyaqqoh lasaada an-naas kulluhu

“Seandainya bukan karena kesulitan hidup maka seluruh manusia akan jadi orang mulia”

(lebih…)

Read Full Post »

syiahkuala_masjid_alwaqib.jpg

Darussalam 22.00 WIB

Hanya sebuah rekam jejak kehidupan. Saya berharap banyak memperoleh kuliah tentang bagaimana menjadi seorang yang lebih bijak meniti hidup…

Di sini…
Di Banda Aceh…
Aku mencium aroma angin kesedihan masa lalu yang pilu
Namun perlahan dia hilang
Berganti dengan semerbak semangat masa depan yang membara

Wassalam

 

Ichsan Mufti

Read Full Post »

Rumput tetangga jauh lebih hijau. Mungkin pepatah ini pernah menghinggapi benak seluruh manusia sejagat raya. Tak peduli di tingkatan sosial mana ia berada. Selalu saja kita mendengar adanya keluhan di sisi kekaguman.

Mungkin sering Anda mendengar keluhan seorang sahabat- sebut saja si Fulan- yang katakan dirinya memiliki begitu banyak kekurangan. Ia ingin bisa sempurna, ia ingin tak kurang suatu apa. Padahal Anda juga pernah mendengar sahabat Anda lainnya yang tampan itu – si ‘Allan- ingin bisa hidup nyaman seperti si Fulan. “Duh alangkah bersyukurnya aku jika bisa hidup enak seperti si Fulan itu. Mau apa juga tinggal beli”. Katanya.

Dalam hati Anda mungkin mendumel: “Duh… Kalian ini kenapa?! Tidak pernah mau mensyukuri kenikmatan hidup yang Allah berikan kepada kalian. Lihat diriku! Sudah jelek, ga ada yang mau, miskin pula. 😦  (lebih…)

Read Full Post »

Saya menuliskan ini pada sebuah awal malam. Hawa panas yang tadinya bersemayam di tembok-tembok rumah kami kini hilang bersama air hujan diserap bumi, srrrrp….. Ya, hari ini rabu yang panas menyengat sekaligus malam kamis yang dingin.

Namun rumah kami tetap seperti biasa. Hangat oleh cinta.

Lama saya tak menulis. Lama sekaligus jauh tepatnya. Lama, tentu saja Tuan dan Puan sekalian paham apa maksud saya. Jauh, karena saya telah kembali ke rumah, berkumpul bersama ayah ibu dan adik. Perjalanan kembali yang telah menjadikan tulisan saya yang terakhir dengan tulisan ini jadi jauh secara geografis. Tapi tak mengapa, baik Yogyakarta, Aceh maupun Medan Sumatera Utara dan seluruh tempat di dunia pasti sisakan ruang perenungan untuk kita.

Semua kita perlu sesekali merenung. Merenung bukan berarti melamun. Karena ternyata bilik hati kita punya dawai. Bentuknya lebih halus dari serat-serat sutera. Dawai yang mampu berbunyi dan berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani kita sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia “menangis kenapa?”. Ia menjawab”tangis haru mengingat cinta kasih ibunda padaku. Setelah melihat seorang ibu yang memeluk anaknya di taman itu aku rindu ibu, rindu kasih sayangnya, rindu nasehat-nasehatnya”. Dan Azan maghrib pun mengalun sendu bersama ketakjubanku terhadap lembut hatinya. (lebih…)

Read Full Post »

Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »