Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Talkative Soul’ Category

Saya menuliskan ini pada sebuah awal malam. Hawa panas yang tadinya bersemayam di tembok-tembok rumah kami kini hilang bersama air hujan diserap bumi, srrrrp….. Ya, hari ini rabu yang panas menyengat sekaligus malam kamis yang dingin.

Namun rumah kami tetap seperti biasa. Hangat oleh cinta.

Lama saya tak menulis. Lama sekaligus jauh tepatnya. Lama, tentu saja Tuan dan Puan sekalian paham apa maksud saya. Jauh, karena saya telah kembali ke rumah, berkumpul bersama ayah ibu dan adik. Perjalanan kembali yang telah menjadikan tulisan saya yang terakhir dengan tulisan ini jadi jauh secara geografis. Tapi tak mengapa, baik Yogyakarta, Aceh maupun Medan Sumatera Utara dan seluruh tempat di dunia pasti sisakan ruang perenungan untuk kita.

Semua kita perlu sesekali merenung. Merenung bukan berarti melamun. Karena ternyata bilik hati kita punya dawai. Bentuknya lebih halus dari serat-serat sutera. Dawai yang mampu berbunyi dan berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani kita sendiri. (lebih…)

Read Full Post »

Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.

(lebih…)

Read Full Post »

 

Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi…… Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar.

Itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum si “yang berjiwa kerdil”. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya.

Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun si “yang berjiwa kerdil” ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. (lebih…)

Read Full Post »

Saya menuliskan ini di sebuah malam, dan saya mendengar suara jangkrik krik-krik-krik di luar jendela. Mungkin ia hinggap di salah satu dahan pohon jambu tetangga, mungkin di pagar rumah belakang yang bertuliskan “for sale”, atau mungkin ia sedang berbaris bersama rekannya, karena baginya sekarang adalah saatnya bekerja. Sayup-sayup suara teman yang menzohirkan bacaan kitab arab gundulnya terdengar, saya resapi, ia mengalir bersama bagian awal tulisan ini. Sesekali sepeda motor dengan beragam suara yang keluar dari resonansi knalpot yang berbeda terdengar melintasi jalan pogung raya ini. Sangat jarang.

Kini saya dengar suara kipas angin kecil yang saya beli beberapa bulan lalu ketika jogja benar-benar panas memeras tubuh ‘tuk diambil peluhnya. Dari tadi sebenarnya suara itu sudah ada. Tapi begitulah saya dan mungkin kebanyakan manusia; sering melupakan hal yang sebenarnya dekat bahkan menyatu dengan kehidupan. Bergerak kipas itu ke kiri dan ke kanan bersama parfum yang tergantung mengikuti irama.

Beberapa saat sebelum tidur, saya rasakan betapa indahnya Yogyakarta. (lebih…)

Read Full Post »

Setiap orang tentu mengharapkan pertemuan dengan apa yang ia katakan cinta. Ada yang datangnya tak terduga. Namun tak sedikit juga yang harus membayarnya dengan peluh pencarian yang tak terkira. Ada semacam petualangan spiritual yang dahsyat dalam pencarian itu. Yang mereka hadapi adalah suatu yang tak pasti. Karena ternyata pada akhirnya tak semua yang mencari berhasil memiliki. (lebih…)

Read Full Post »

Sebuah refleksi diri sendiri : )

Pagi tadi iseng buka-buka buku lama. Tak sengaja tiba-tiba mata tertuju pada beberapa bait kata yang dahulu biasa-biasa saja bagi saya. Begini kira-kira terjemahannya:

Ingatlah…
sesungguhnya kini lembah kedukaan
telah berubah tanahnya menjadi harum bak kesturi
dan pohon keringnya menjadi kayu cendana yang harum mewangi

Itu tiada lain karena suatu petang
Hindun telah berjalan melaluinya
dan menebarkan butiran salju
yang menyejukkan setiap penjuru lembah itu

Syair indah di atas sungguh membuat saya kembali merenung, tentang makna di balik keberadaan diri saya di dunia ini; (lebih…)

Read Full Post »

the magic human brainTiada hari yang kita lewati tanpa berpikir. Saya, anda, dan manusia seluruhnya, memang diciptakan dengan kelebihan yang satu ini diantara makhluk lainnya. Otak manusia mungkin saja tak lebih besar dari otak gorilla, namun seonggok daging di kepala kita ini ternyata mampu membawa kita menyusuri alam semesta yang seakan tak berbatas. Dengan sedikit bantuan imajinasi, kita mampu mengendarai sang pikiran menembus setiap dimensi ruang dan waktu.

Namun sering kali ketika kita terlalu girang bermain di alam rasionalitas kita lupa jalan pulang. Jalan untuk kembali ke kampung halaman yang disana ada rumah surgawi yang menanti kita. Rumah yang dikelilingi oleh taman-taman indah tampat berkumpulnya dua hal tersuci di dunia ini: iman dan cinta. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »