Feeds:
Pos
Komentar

Sore itu matanya terlihat sembab. Bekas aliran air mata di pipinya tak mampu ia sembunyikan dari hadapan saya. Ia menunduk sebentar, mengusap kedua matanya kemudian tersenyum, berpura-pura ceria seakan tak terjadi apa-apa. Tapi ia tak bisa menipu saya. Saya tahu ia habis menangis. Tangis apa itu awalnya saya tak tahu. Maka saya tanya ia “menangis kenapa?”. Ia menjawab”tangis haru mengingat cinta kasih ibunda padaku. Setelah melihat seorang ibu yang memeluk anaknya di taman itu aku rindu ibu, rindu kasih sayangnya, rindu nasehat-nasehatnya”. Dan Azan maghrib pun mengalun sendu bersama ketakjubanku terhadap lembut hatinya. Lanjut Baca »

Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

Ketika sedang duduk sendiri menghirup segarnya udara pagi, atau ketika berjalan kala senja menyaksikan bunga-bunga yang tengah mekar di pinggir rumah, atau ketika kita tenggelam dalam samudera perenungan dan instrospeksi menjelang tidur, kita sering tersenyum sendiri menatap masa lalu. Tak jarang, tawa kecil kita meledak dalam sunyi-gelapnya malam. Kala itu kita geli sendiri, malu pada waktu, pada manusia, pada Allah, karena dahulu kita pernah keliru, kita pernah salah bersikap, berkata-kata, kita…. pernah “tak merasa kita salah”. Tawa yang kadang beriring rintih tangis pengakuan. Dan setelah itu seakan ada yang berbisik genit ke telinga kesadaran kita: “Bodoh sekali kau dulu itu!”, katanya.

Lanjut Baca »

Kegagalan?!

 

Setelah merapatkan kepala ke pojok dinding rumah itu ia kembali menangis. Tangisan jiwa yang tak mampu ia kendalikan. Jiwa yang menjadi ringkih karena kecewa. Ia anggap dirinya telah gagal tak mungkin bangkit lagi…… Dan dinding itu menjadi saksi bisu bagi air mata kepiluan yang menetesi bumi tempat ia menunduk. Air mata yang sepekat darah. Darah yang mengalir dalam nadi keputus-asaan. Padahal di atas atap rumahnya purnama tengah bersinar.

Itu mungkin apa yang akan kita saksikan beberapa saat sebelum si “yang berjiwa kerdil”. duduk setengah tertidur di sebuah panti perawatan. Usianya mungkin masih muda, namun jiwanya telah terlalu renta karena ia tak pintar merawatnya.

Ia tak paham, bahwa kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, senantiasa mewarnai cerita awal sebuah kesuksesan, ialah yang menguatkan dorongan untuk sukses dan juga sebagai sebab seorang menemukan keunggulan yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali. Namun si “yang berjiwa kerdil” ini tak tahu itu. Ia bodoh betul. Lanjut Baca »

DARAH!!!

Den… Mas tak kenal kamu. Tapi mas berharap Allah segera sembuhkan kamu dari penyakit yang bisa bikin mas menangis membayangkan bagaimana tubuhmu telah begitu lelahnya dengan transfusi.

Saya mencoba menebak sebagai apa ia berada di sana. Tampak sedang sungguh-sungguh berdiskusi jarak agak jauh dengan dua orang mahasiswi berjilbab panjang yang baru datang membawa selembar kertas bergambar. Saya tak tahu apa isinya. Yang jelas mereka sedang membicarakan sebuah kegiatan sosial. Persisnya saya pun tak tahu, walau ingin sebenarnya. Tak lama setelah itu saya dihampirinya dan jadi tahu bahwa ia adalah seorang relawan.

Kami bertemu di sebuah sudut R.S.Sardjito tepatnya di ruang Unit Tranfusi Darah. Ruangan itu dingin, serba putih, penuh keramahan walau kamar kecilnya terkunci di balik sebuah gorden hijau yang sedikit tersibak. Kursi tunggu fiberglass berjejer di kedua sisi ruangan itu. Membiarkan “orang-orang yang cemas” mendudukinya. Lanjut Baca »

Teman Hidup

————
Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan segala bentuk pertemuan dan perpisahan. Yang telah menentukan segala bentuk kehidupan dan kematian. Agar manusia dapat bersyukur terhadap berbagai macam kenikmatan dan kelapangan sebelum datang kepadanya ujian berupa kesulitan.

Shalawat serta salam selalu kita curahkan kepada nabi kita Muhammad Shalllahu ‘alaihi wasallam karena telah mengajarkan kepada kita makna sesungguhnya dari hidup dan kehidupan.

Telah menjadi ketentuan Allah bahwasanya manusia seluruhnya akan melewati berbagai perjalanan panjang menuju janji Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari alam ruh kita dipindahkan ke alam rahim kemudian dilahirkan oleh ibu kita tercinta. Setelah menginjakkan kaki di dunia ini kita pun tumbuh. Dahulunya kita adalah bayi mungil kemudian beranjak remaja, dewasa, membangun keluarga kemudian menjadi renta hingga akhirnya kita semua akan mati. Lanjut Baca »

Puisi Duka Andalusi

Andalus, 898 H/1492 M

Sejarah adalah sebuah pendewasaan bagi siapa saja yang menyelaminya. Di dalamnya ada kebahagiaan, masa gemilang dan kenangan manis sebuah peradaban. Namun di dalamnya juga ada keruntuhan dan air mata kepedihan. Berputarnya roda kehidupan membuat wajah dunia berbeda dari masa ke masa. Namun satu hal yang paling berharga, yaitu bagaimana manusia masa lalu mengajarkan kepada kita sesuatu yang luar biasa. Bahwa “manusia tidak pantas untuk terperosok ke dalam lubang yang sama”.

Mereka-manusia-manusia lampau- tentu menyadari bahwa kabar mereka akan terbang melayang jauh. Jauh di kemudian hari. Serentak tentunya dahulu mereka berharap, bilamana terpenggal dan kalah dalam pertempuran maka tetesan darah mereka harus mampu tuliskan ‘surat cinta’ kepada penerus di masa depan. Surat cinta berisikan pesan yang berbunyi “jangan sampai kalian berbuat tolol seperti yang telah kami lakukan!!”. Itulah sejarah. Yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berani berkaca dan belajar banyak dari pengalaman.

Malam ini saya bernostalgia. Nostalgia penuh duka bersama bait-bait sang pujangga. Bait-bait yang bercerita tentang masa di mana seolah singa dikutuk menjadi kucing dan banteng gagah mendadak menjadi seekor domba. Sebuah masa keruntuhan yang ditangisi Abul Baqo’ ar-Rundy bersama segenap umat Islam sedunia sejak dahulu hingga kini; Masa keruntuhan negeri Andalus di tangan pasukan salibiyah.

Sang pujangga (Abul Baqo’ ar-Rundy -601 H-) berteriak mengiba dalam bait-baitnya: Lanjut Baca »

Agar bacaan kita aktif, maka akidah pembaca yang beragama Islam harus murni dan kuat sehingga dia bisa membaca dengan sadar. Demikian itu supaya sejak awal membaca, dia sudah memiliki dasar, sehingga dasar itu dia jadikan sebagai pijakan yang ia sadari ketika membaca. Jika dia membaca sebuah buku, dia selalu meneranginya dengan cahaya lampu Islam. Dasar dan pendidikan itu berfungsi sebagai landasan untuk meluruskan buku-buku itu dan sebagai ukuran untuk membedakan mana yang benar dan yang salah dan untuk mengkritik.

Seorang pembaca Muslim harus senantiasa menghadirkan ukuran kritik berdasarkan cahaya syariat di sela-sela bacaannya, khususnya ketika membaca buku-buku yang rancu dan tidak dikenai, sehingga dia akan mengkritik apa yang dibacanya berdasarkan akidah Islam dan dalil-dalil syariat yang dikenalnya serta hadits-hadits mana yang shahih dan cacat. Dengan begitu rnaka bacaan kita akan menjadi bacaan yang sadar dan aktif.
Faktor-faktor yang Dapat Merusak Kesadaran

Lanjut Baca »